SHANTUI - Tanteholic [5.000]
Bab Ini Dikunci
Masukkan kode akses untuk lanjut membaca.
CARA BELI AKSES:
1. DM admin untuk konfirmasi pembelian.
2. Harga SHANTUI-Tanteholic : Rp5.000.
3. Kirim bukti transfer Anda.
4. Admin akan memberikan KODE AKSES ke Anda.
*Mohon menunggu cuy, Admin akan membalas chat Anda sesegera mungkin (1x24 jam)
Judul: Servis dari Tanteku Sayang
Melihat Gracia yang kembali tidur, Shani dengan sengaja membuka kelopak mata Gracia secara paksa.
"Tante jangan tidur dulu Shani kan belum ngantuk!" seru Shani.
"Shani! Astaga perih tau gak mata Tante!" seru Gracia kesal. Dia langsung bangkit dan duduk di tepi kasur dengan wajah cemberut. "Tau ah, Tante pulang aja sekarang ke rumah, males nemenin kamu kalo nakal begini!"
"Eh Tante Jangannn! Shani minta maaf, Shani janji gak bercanda lagiii!" panik Shani langsung ikut bangun dan buru-buru memeluk erat pinggang Gracia dari belakang agar wanita itu tidak beranjak dari kasur.
"Tidur gak?!" seru Gracia ketus.
"Iya, iya, Shani tidur sekarang, Tapi elus-elus dulu kepalanya sampe Shani merem ya? ya?" pinta Shani langsung memasang wajah memelas andalannya.
Kemudian Gracia kembali merebahkan tubuhnya di samping Shani. Ia pun mengelus rambut dan kepala Shani dengan penuh kasih sayang agar kekasih remajanya itu cepat terlelap.
"Salah Tante bukan gitu elus-elus kepalanya" protes Shani tiba-tiba sambil menahan pergelangan tangan Gracia.
"Lah gimana lagi? Ini Tante kan lagi elus kepala kamu Shani," sahut Gracia heran sambil tetap melanjutkan usapan lembutnya di rambut Shani.
"Bukan kepala yang ini Tante, kepala yang bawah!" celetuk Shani dengan wajah tanpa dosa.
Gracia langsung menggelengkan kepalanya heran, dan mengusap hati-hati di area yang dimaksud.
Baru saja dua kali usapan, tubuh Shani langsung meliuk liuk dan menahan pergelangan tangan Gracia dengan wajah yang memerah padam menahan geli.
"Tuh kan! Kamu aja gelian begini masa minta usap-usap bagian itu," cibir Gracia langsung menarik tangannya kembali sambil tertawa. "Baru disentuh dikit udah gemeter."
"Ih gak gitu! Itu refleks tauk!" Shani langsung melakukan pembelaan dengan wajah cemberutnya. "Lagian tangan Tante Gracia dingin banget kayak es batu, makanya kontol Shani kaget!"
*Plak!
"Aduh! Kok digeplak sih?!" protes Shani.
"Mulutnya sembarangan!" omel Gracia. "Besok-besok jangan pernah sebut kata itu lagi, gak sopan tau gak?"
"Lah, terus Shani harus sebut apa? Orang emang itu namanya," gumam Shani masih berusaha membela diri.
"Ya kan bisa disebut adek kamu, atau punya kamu, atau burung kamu kek. Yang mending dikit napa," ajar Gracia gemas. "Emangnya orang tua kamu gak pernah ngajarin apa buat nyebut bagian itu kah? Gak baik di denger orang tau, apalagi di depan Tante begini."
Kemudian Shani mengingat-ingat kembali pelajaran masa kecilnya.
"Emmm Papa sama Mama dulu ngajarinnya kalo ini namanya titit, Tante," celetuk Shani dengan wajah tanpa dosa. "Tapi kan Shani udah gede, masa masih pake sebutan titit? Nanti dikira Shani belum puber dong!"
"Ya daripada kamu sebut kata yang tadi Shaniii! Malah bagusan istilah dari orang tua kamu!" seru Gracia gemas setengah mati.
"Ya intinya tangan Tante emang dingin banget tadii, shani pengennnnn" rengek Shani.
"Yaudah, tunggu bentar," kata Gracia kemudian lalu menggosok-gosokkannya kedua tangan nya hingga terasa hangat. "Nah udah anget kan? Sekarang elusin tapi pelan-pelan loh. Jangan bikin geli kayak tadi," rengek Shani dengan nada manja.
"Iya, iya, rewel banget deh ah," sahut Gracia sambil menahan senyum.
Lalu Gracia menarik karet celana pendek Shani lalu mengintip ke dalam. Begitu melihat apa yang ada di dalamnya, Gracia langsung tertawa kencang.
"Hahahahahaha! Astagaa Shani!" tawa Gracia sambil menutupi mulutnya sendiri.
"Kenapa kok ketawa?! Ih Tante!" Shani langsung panik sekaligus bingung melihat reaksi Gracia yang sampai pundaknya terguncang-guncang begitu.
"Ih tititnya lucu banget, kok lemes begitu kayak ulat keket!" komen Gracia blak-blakan.
Wajah Shani seketika berubah merah padam sampai ke telinga. Ia langsung menarik selimutnya tinggi-tinggi sampai menutupi seluruh badannya karena saking malunya.
"Ih Tante mah! Jangan dibilang titit napa! Shani sebel denger kata itu!" protes Shani. "Itu kan karna masih tidur makanya lemes! jangan ngeremehin loh ya, nanti kalo udah bangun Tante sendiri yang kapok!"
"Iya, iya, maaf ya cayang ante jangan ngambek dong," goda Gracia lagi, "Yaudah sini, Tante usap beneran biar gak ngambek lagi," bisik Gracia dengan nada merayu.
Kemudian Gracia kembali memasukkan tangannya yang sudah hangat ke dalam celana pendek Shani. Ini adalah pertama kalinya Gracia benar-benar menyentuh dan bagian berharga milik Shani yang sedang dalam kondisi lemas itu. Teksturnya yang sangat lembut dan agak kenyal membuat Gracia sempat tertegun sejenak.
Dengan perlahan, Gracia mengusap lembut bagian ujung kepala penis Shani.
"Hnghh…. Tan-tanteh...." lenguh Shani.
Meskipun tangan Gracia sudah dihangatkan, dasar Shani memang sangat sensitif dan payah. Baru beberapa kali usapan di sekeliling kepala penisnya, pinggang Shani sudah mulai menggeliat tidak bisa diam. Kakinya juga gelisah di atas kasur.
"Diem dong, jangan gerak-gerak terus, Tante susah ini," omel Gracia, meskipun ia sendiri mulai merasa gugup karena merasakan bagian yang ada di genggamannya itu mulai berkedut dan mengeras akibat sentuhannya.
"Tapi geli banget Tante! Ahhh….," rengek Shani dengan suara yang sudah agak serak.
Walaupun sedari tadi mengeluh geli dan badannya tidak bisa diam karena payah menahan rangsangan, Shani sama sekali tidak berniat menjauhkan tangan Gracia. Malahan, dia justru semakin memejamkan matanya rapat-rapat, menikmati sensasi keenakan yang luar biasa sampai kepalanya mendongak ke belakang.
Hanya butuh waktu sekitar beberapa menit milik Shani menjadi semakin membesar tegang, dan mengeras di dalam genggaman tangan Gracia. Kulitnya terasa semakin hangat dan menegang kencang, menunjukkan ukuran aslinya yang ternyata lumayan dan panjang saat sudah tegak sempurna.
Saat Gracia sedikit menyingkap karet celananya lagi untuk memastikan, terlihat jelas kalau kepunyaan Shani ternyata sudah di sirkumsisi, tanpa ada sisa kulit yang menutupi bagian kepala penisnya nya yang kini sudah memerah karena dialiri darah.
"Tuh kan, beneran bangun kann gede tauk, makanya jangan ngeledek lagi," bisik Shani terbata-bata dengan napas yang semakin memburu.
Saking tidak bisa menahan sensasinya, tangan Shani ikut menyusupkan telapak tangannya sendiri di atas tangan Gracia yang sedang bergerak di dalam celananya.
"Iya, iya, Tante gak ngeledek lagi. Ternyata gak selucu tadi ya kalo udah bangun," sahut Gracia denga senyuman jahilnya. Gracia pun mulai meraba bagian bawah serta buah zakar Shani dengan gerakan yang sangat lembut membuat Shani hanya bisa pasrah meringkuk di sampingnya sambil terus melenguh.
Saat Gracia meraba ke bagian paling bawah, ia langsung merasakan tekstur sepasang buah zakar Shani. Ketika digenggam dengan lembut dari bawah, bagian itu terasa berkedut mengikuti setiap tarikan napas Shani yang semakin memburu.
"Hngghh jangan kenceng-kenceng," lenguh Shani dengan suara yang makin serak dan berat. Pinggang Shani secara refleks langsung terangkat dan meliuk kaku ke kanan dan ke kiri.
"Tuh kan, malah gak bisa anteng," bisik Gracia gemas, melihat ekspresi Shani yang terlihat begitu tersiksa sekaligus sangat menikmati.
"T-tapi emang enak banget tan, beneran," kata Shani sambil gigit bibir bawahnya sendiri.
Gracia yang merasakan milik Shani semakin tegang dan berkedut di dalam genggamannya langsung melirik wajah Shani yang sudah basah oleh keringat. Ibu jari Gracia lalu mengusap cairan pelumas alami yang mulai keluar sedikit di ujung kepala penis Shani.
"Shan kamu jangan tiba-tiba keluar di kasur ya, kotor tay," bisik Gracia memperingatkan, "Ini cuma mau elus-elus doang apa sekalian dikocokin? Hm?"
"Mmmm mau dikocokin ajaa, please…." rengek Shani langsung merapatkan pahanya sedikit, untuk mencoba menjepit tangan Gracia agar genggamannya semakin erat di batangnya.
“Tapi kocoknya pelan-pelan banget ya tan? Shani kan payah, takutnya baru sebentar malah langsung keluar kalo Tante kekencengan," lanjut Shani bawel.
“Yaudah, Tante turutin."
Akhirnya Gracia menyuruh Shani untuk duduk, lalu membuka kedua kaki Shani lebar-lebar hingga mereka kini duduk berhadapan di atas kasur. Sebelum memulai, Gracia meraih sekotak tisu di atas nakas dan menyiapkan beberapa lembar di dekat paha Shani untuk berjaga-jaga.
Tangan Gracia lalu menggenggam batang Shani yang sudah tegak sempurna, lalu menaik dan turunkannya dengan ritme yang lambat dan konsisten.
"Hnghh….. ahh, Tantehh....."
Setiap kali gerakan tangan Gracia terasa sedikit lebih cepat, Shani langsung secara refleks mencengkeram erat lengan Gracia. Cengkeramannya yang kuat menjadi sinyal otomatis bagi Gracia untuk kembali melambatkan ritme kocokannya agar Shani ini tidak tumbang terlalu cepat.
"Akkh p pelan-pelanh tante….. di situ sensitif banget," gumam Shani terbata-bata.
Setelah beberapa menit menikmati servis naik-turun, tubuh Shani mendadak gemetar. Cairan pra-ejakulasi semakin banyak membasahi telapak tangan Gracia, menandakan bahwa Shani sudah berada di titik puncaknya.
"Tan-tante.. Shani mau keluaarr udah di ujung ahh!" Kata Shani panik. Mendengar itu, Gracia sengaja melakukan gerakan memutar di sekitar kepala penis dan bagian frenulum / area bawah kepala penis yang paling sensitif.
Mendapat stimulasi maut di titik paling sensitif nya, Shani langsung meliuk liuk sambil mendongak ke atas dengan urat-urat leher yang menegang kencang.
"Aahhh! Tante Gracia! ahh!" teriak Shani mendesah.
*Crot! *Crot!
Cairan putih kental Shani keluar memuncrat beberapa kali membasahi jemari Gracia dan beberapa lembar tisu yang sudah disiapkan di bawahnya. Detik itu juga, Shani yang lemas tak berdaya setelah pelepasan langsung merapatkan kedua kakinya dengan erat. Ia terkulai lemas ke depan, menyandarkan dahinya yang berkeringat di bahu Gracia sambil terengah-engah menikmati sisa nikmat.
"Berisik banget desahnya, untung kamarnya kedap suara, kalo enggak bisa digedor tetangga kita," bisik Gracia sambil mengusap keringat yang bercucuran di pelipis Shani menggunakan tisu.
"Tapi beneran enak banget tante. Sampe lemes semua badan Shani," sahut Shani terbata-bata dengan suara yang masih sangat serak.
"Iya, Tante tau. Udah ah, lepasin dulu pelukannya, Tante mau bersihin ini dulu," ujar Gracia sambil menepuk-nepuk punggung Shani.
"Gak mauu, bentar duluu Shani masih pengen diginiin," rengek Shani makin manja, malah semakin mempererat pelukannya.
"Iya, iya nanti lagii, Tante mau lap ini dulu, risih tau," ujar Gracia akhirnya memaksa melepaskan pelukan erat Shani.
Dengan telaten, Gracia mengambil tumpukan tisu bersih untuk membersihkan telapak tangannya sendiri terlebih dahulu.
"Jangan di tutup lagi kakinya, sini Tante lap," perintah Gracia sambil menepuk paha Shani. Begitu tisu lembut di tangan Gracia menyentuh kepala penisnya yang lemas, tubuh Shani langsung tersentak lagi.
"Aduh! Hahaha Tante, geli banget sumpah!!" pekik Shani langsung heboh sendiri.
"Astaga Shani, ini udah pelan-pelan banget tauk! Cuma ditotol-totol doang tisunya," omel Gracia gemas dan menahan pinggang Shani agar tidak makin bergeser jauh. "Kalo gak dilap nanti lengket ih!"
“Iya,iyaa!”
Saat Gracia mengelap bagian bawah dan buah zakarnya, Shani malah makin tidak bisa anteng. Kulit buah zakarnya yang sensitif langsung mengkerut alami merespons sentuhan luar, membuat Shani tertawa-tawa geli sambil menekuk kakinya untuk melindungi area berharganya.
"Hahaha! Tante stop, stop! Biji Shani geli banget jangan dlap di situ, geli, geli!" seru Shani sambil bergerak heboh mencoba menjauhkan tangan Gracia.
"Shaniii! Diem gak! dikit lagi ini, kalo gak diem Tante templokin sisa tisunya ke muka kamu ya!" ancam Gracia ketus, meskipun ia sendiri ikut tertawa melihat ekspresi menahan geli dari bayi gedenya itu.
Setelah perjuangan panjang menahan hebohnya Shani yang kegelian, Gracia akhirnya berhasil menyeka sisa-sisa cairan sampai benar-benar bersih dan kering. Ia kemudian menarik kembali celana pendek Shani ke atas. "Udah! Beres," ujar Gracia.
"Makasih banyak yaaa, Tante Ge kesayangan Shani,,Servisnya enakk banget," bisik Shani sambil menyengir lebar.
Gracia hanya mencibir geli sambil melempar gumpalan tisu kotor ke tempat sampah di dekat ranjang. "Tante baru pertama kali tau denger desahan bocil seheboh kamu. Padahal umur udah 19 tahun, tapi rewelnya minta ampun."
“Tantee mahhh”
"Kamu biasanya suka main solo gak sih di kalo lagi sendirian? Secara kan tadi kamu kelihatan sensitif banget pas Tante pegang," tanya Gracia penasaran.
"Ih... Tante kepo deh!" seru Shani protes.
"Jujur aja kali, kan cuma sama Tante di sini. Gimana? Sering?" desak Gracia sambil menyenggol lengan Shani dengan sikutnya.
"Yaa boong banget kalo gak pernah," jawab Shani akhirnya, "Tapi Shani tuh gak sesering itu tan! Paling seminggu cuma sekali atau dua kali kalau bener-bener lagi stres atau pas malem-malem gak bisa tidur. Lagian, main solo sendirian tuh beda banget rasanya sama yang tadi! Kalau Shani main sendiri, biasanya cuma buru-buru biar cepet keluar aja. Makanya pas tadi tangan Tante Shani langsung kaget karena sensasinya berkali-kali lipat lebih enak dan bikin merinding. Makanya Shani gak bisa anteng tadi, Tante!"
Seketika Gracia tertawa renyah mendengar penjelasan panjang lebar dan super jujur dari berondongnya itu. Ia mengulurkan tangannya, mengacak-acak rambut Shani dengan gemas. "Oalah, jadi ceritanya tadi itu rekor tersensitif kamu ya? Pantesan teriak desahnya kenceng banget."
"Ih Tante mah! Udah ah, jangan dibahas lagi, Shani malu!" gerutu Shani sambil langsung menerjang tubuh Gracia untuk memeluknya erat, menyembunyikan seluruh wajah merahnya di dada wanita itu demi menghentikan ledekan Gracia yang membuatnya makin salah tingkah.
"Tapi Tante beneran gak ilfeel kan sama punya Shani?" tanya Shani tiba-tiba.
"Lho, emang kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu?" tanya Gracia.
"Yaa Shani sebenernya agak insecure tauk Tan, sama punya Shani sendiri," jawab Shani jujur, "Soalnya Shani sempet mikir, apa punya Shani ini looknya aneh ya?"
Mendengar pengakuan random sekaligus super jujur dari Shani, Gracia merasa gemas lalu mengusap pipi Shani. "Astaga, bayi gede Tante ternyata bisa insecure juga soal ginian. Dengerin Tante ya shani sayang. Yang kamu punya itu sehat tau!" jelas Gracia sambil bergeser sedikit agar posisi tidur mereka lebih nyaman, lalu melanjutkan kalimatnya, "Malahan pas tadi Tante pegang, Tante mikir ukurannya pas banget di tangan Tante, lurus, bersih lagi karena udah disunat. Gak ada yang perlu di-insecure-in, ih. Malah kelihatan seksi tahu kalau lagi tegang begitu."
Mendengar kalimat terakhir Gracia, mata Shani langsung berkedip beberapa kali. Rasa insecure-nya langsung digantikan oleh rasa percaya diri.
"Hah? Beneran, Tante? Tante tadi mikir punya Shani seksi?!" seru Shani mendadak heboh lagi.
"Eh! maksud Tante–" kata Gracia langsung salah tingkah sendiri, merona merah karena sadar kalimat penghiburannya tadi malah dimanfaatkan Shani buat membalikkan keadaan.
"Cieee, Tante Ge suka yaaa sama punya Shani? Berarti besok-besok kalau Shani minta lagi Tante mau dong? Kan seksi, wleee!" ledek Shani kegirangan sambil menaik-turunkan alisnya dengan wajah paling menyebalkan sedunia.
"Shaniii! Udah ah, dibilangin bener-bener malah ngelunjak!" seru Gracia kesal sekaligus malu, langsung menarik selimut tinggi-tinggi untuk menutupi wajahnya sendiri dari tatapan usil Shani.
Shani hanya tertawa puas melihat tantenya yang salah tingkah, lalu ia ikut menyusup ke dalam selimut untuk memeluk erat pinggang Gracia, merasa sangat lega dan bahagia malam itu karena tahu kepunyaannya dihargai sepenuhnya oleh wanita kesayangannya.
Comments
Post a Comment