SHANTUI - Kapal Pesiar [6.000]
Bab Ini Dikunci
Masukkan kode akses untuk lanjut membaca.
CARA BELI AKSES:
1. DM admin untuk konfirmasi pembelian.
2. Harga SHANTUI-Kapal Pesiar : Rp6.000.
3. Kirim bukti transfer Anda.
4. Admin akan memberikan KODE AKSES ke Anda.
*Mohon menunggu cuy, Admin akan membalas chat Anda sesegera mungkin (1x24 jam)
Judul : Skandal Nahkoda dan Pelayan
Meskipun kondisi fisiknya sempat menurun akibat flu, Shani tiba-tiba menjadi sangat bertenaga mengangkat tubuh Gracia dan merebahkannya di atas tempat tidur.
Setelah itu, Shani langsung membuka kancing kemeja seragam kerja yang sedang dipakai oleh Gracia.
"Aaa! Shan lepasin nggak! Hahaha!" teriak Gracia dengan keras sambil bergerak gelisah untuk melepaskan diri dari dekapan Shani.
"Shani stop! Nanti baju aku robek tau! Gantinya mahal kudu potong gaji aku nanti!" omel Gracia
"Biarin, nanti aku yang ganti gajimu setahun" sahut Shani terus melanjutkan tindakannya untuk membuka pakaian Gracia.
Posisi wajah Shani kini berada sangat dekat dengan wajah Gracia. Ia menjulurkan lidahnya untuk menggoda Gracia. Gracia yang merasa kesal langsung mendorong wajah Shani agar menjauh.
"Muka kamu nyebelin banget sih! Jauh-jauh sanaaa" seru Gracia sambil tertawa dan menekan pipi Shani
Setelah itu, seluruh pakaian Gracia akhirnya terlepas. Gracia secara refleks langsung merapatkan kedua pahanya dan menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk menutupi tubuhnya.
Shani yang saat itu masih mengenakan pakaian hanya tersenyum. Ia kembali menjulurkan lidahnya karena ingin segera menjilat area intim gracia.
"Sumpah ya mukamu mesum banget!" teriak Gracia dengan nada panik,
"Buka nggak? Satu..... dua....?" ancam Shani sambil tertawa.
"Nggak mau! Tolonggg!" pekik Gracia
Shani yang memiliki kekuatan yang lebih besar segera menyelipkan kedua tangannya ke sela-sela lutut Gracia. Ia menarik kedua kaki Gracia ke arah luar agar paha tersebut terbuka.
Kedua paha Gracia akhirnya berhasil dibuka dengan paksa oleh Shani membuat area paling sensitif milik Gracia terlihat. Shani langsung tersenyum puas dan kembali menjulurkan lidahnya untuk memulai aksinya.
Ia segera memajukan wajahnya ke paha Gracia yang sudah terbuka lebar. Begitu lidah Shani yang hangat menyentuh permukaan kulit sensitif di area vagina tersebut,
"Ah! s-stop, geli banget....." rintih Gracia meremas seprai tempat tidur dengan sangat kencang.
Tapi Shani menghiraukan protes tersebut dan justru semakin menjilat lipatan sensitif milik Gracia
"Ugh,aaah!" pekik Gracia lagi seraya melengkungkan pinggangnya ke atas saat lidah Shani menyapu bagian klitorisnya dengan cepat.
Mendengar desahan Gracia, Shani justru semakin bersemangat dan menahan kedua pinggul Gracia menggunakan kedua tangannya agar tidak bergeser. Lidah Shani kemudian mulai bergerak melingkar tepat di lubang Gracia, lalu sesekali menusukkan ujung lidahnya ke dalam celah yang mulai mengeluarkan cairan alami tersebut.
"Ahhh! Shani, aku nggak kuattt!" teriak Gracia dengan nada tinggi,
Melihat Gracia yang sudah sangat kegelian, Shani akhirnya menjauhkan wajahnya dan menggunakan jari-jarinya untuk mengelus area yang sudah basah tersebut untuk mengerjai kekasihnya.
"Iya, iya, yauudah nih gajadi" ucap Shani sambil terkekeh
Karena kesal dikerjai, Gracia mengangkat satu kaki dan menendang pelan selangkangan Shani yang masih terbungkus celana.
*Bugh!*
"ARGHH!!" ringis Shani sambil memegangi bagian intimnya dan membungkuk kesakitan.
"Lagian kamunya nyebelin! Sengaja banget bikin orang tanggung!" kata Gracia langsung memalingkan wajahnya
Melihat reaksi Gracia yang cemberut dengan napas memburu, Shani merangkak kembali mendekati Gracia lalu menatapnya dengan pandangan menggoda.
"Nah kan! Tuh, ketahuan kan kalau kamu sebenarnya mau lagi?" goda Shani sambil menunjuk ke arah paha Gracia yang masih terbuka.
Kemudian Shani duduk bersila sambil memijat dan menekan-nekan buah zakarnya sendiri yang terasa cenat-cenut
“Tega banget sih gee, Ngambek sih ngambek, tapi jangan ditendang juga anu aku" gerutu Shani
"Siapa suruh bikin orang kesel?" Ketus Gracia.
"Ya tapi kan nggak usah main fisik begini. Kalo sampe nggak bisa berfungsi lagi gimana? Kamu juga yang rugi nanti," gumam Shani sembari memastikan area sensitifnya tidak mengalami luka serius
"Hhh.... iya deh maaf. Sini coba liat mana yang sakit," ucap Gracia
"Nggak mau ah. Nanti yang ada malah kamu tendang lagi sampe pingsan," sahut Shani sambil terus memegangi area selangkangannya yang masih terasa linu.
"Enggak, Janji deh nggak bakal aku tendang lagi" bujuk Gracia
Akhirnya, Shani melonggarkan tali celana pendek santai serta celana dalamnya, lalu menurunkannya sekaligus hingga sebatas lutut untuk memperlihatkan area yang terkena tendangan.
"Bagian mananya yang sakit?" tanya Gracia
Shani menunjuk area bawah buah zakarnya. "Yang ini ge Masih agak cenat-cenut"
Gracia langsung memijat titik yang ditunjuk Shani, namun Shani langsung meremas salah satu payudara Gracia dengan cukup erat,
"Eh!" pekik Gracia yang terkejut karena serangan mendadak tersebut.
Kemudian, Gracia yang tidak mau kalah langsung meremas lembut kedua buah zakar Shani sebagai bentuk pembalasan.
"Tuh kan! Mainnya bales dendam terus!" seru Shani
Selanjutnya, Gracia melepaskan remasannya sambil terkekeh geli melihat ekspresi pasrah kekasihnya. Ia mengusap sekali lagi ujung penis Shani yang mulai bereaksi tegak
“Orang lagi khawatir juga" ucap Gracia menggoda Shani dengan senyuman jahil.
Sambil terus memijat, Gracia memutar bola matanya malas sembari kembali mengusap-usap lembut kedua buah zakar Shani yang tadi sempat dikeluhkan sakit.
"Apasih kek gini doang padahal, lebay banget kamu" omel Gracia saat menyentuh buah zakar Shani.
"Eh ini penting loh Ge! Masa depan kita ada di sini semua" kata Shani
Perlahan tapi pasti, sentuhan tangan Gracia membuat rasa linu di selangkangan Shani benar-benar hilang. Justru membuat penis Shani menegang dan berdiri tegak dengan sendirinya.
Seketika itu juga, Shani melirik ke arah miliknya yang sudah tegang, lalu menatap Gracia penuh arti.
"Sekarang waktunya lanjutin hukumannya kan?" tanya Shani dengan cengiran jahil
“Hm” gumam Gracia
Shani langsung menggenggam batang penisnya dan mulai mengocoknya beberapa kali dengan gerakan naik-turun agar ereksinya menjadi semakin keras.
Setelah itu, Shani memajukan tubuhnya hingga posisi penisnya berada tepat di depan wajah Gracia yang sedang duduk di atas kasur
"Mau blowjob punyaku dulu nggak Ge?" tawar Shani sembari mengarahkan ujung penisnya yang sudah mengeluarkan sedikit cairan pelumas alami tersebut ke dekat bibir Gracia.
"Enggak mau ah, aku lagi sariawan" jawab Gracia jujur sambil menunjuk bibirnya sendiri.
"Oh, ya udah. Berarti langsung masuk aja ya," ujar Shani
Selanjutnya, Shani langsung menarik tubuh Gracia hingga duduk di pinggir tempat tidur dengan posisi menghadap ke arahnya. Shani sendiri berdiri di antara kedua paha Gracia yang terbuka lebar.
Kemudian, Shani merendahkan posisi tubuhnya dengan sedikit menekuk kedua lututnya agar ketinggian pinggul mereka sejajar. Shani perlahan mengarahkan ujung penisnya yang keras ke luar vagina Gracia yang sudah basah.
"Pelan-pelan ya ge..... pegangan sama aku" bisik Shani
"Iya.... ahhh” sahut Gracia refleks mencengkeram bahu Shani
Batang penis Shani perlahan-lahan melesak masuk ke dalam lubang vagina Gracia yang terasa menjepit dan hangat.
"Nghhh.... Shani, p-penuh banget.... ah!" rintih Gracia saat merasakan miliknya meregang.
"Hhh.... sempit banget" gumam Shani membiarkan Gracia beradaptasi setelah seluruh batangnya berhasil tertanam sempurna di dalam lubang kekasihnya.
Selanjutnya, Gracia memperhatikan area penyatuan tubuh mereka. Walaupun ini bukan pertama kalinya mereka melakukan hubungan intim, Gracia tetap merasa sedikit ngeri melihat bagaimana organ intim Shani tertanam seluruhnya hingga membuat kulit di sekitarnya meregang.
"Ih, Shani.... kalau dilihat-lihat lagi tetap aja ngeri akunya," gumam Gracia
Mendengar hal itu, Shani hanya tersenyum dan mengecup dahi Gracia dengan lembut untuk menenangkannya. "Tapi kamu suka kan?"
"Nghhh.... iya sih, enak" aku Gracia jujur
Selanjutnya, Shani mulai menaikkan tempo dorongan pinggulnya menjadi lebih stabil dan bertenaga.
*Plak.... plak.... plak....*
"Nghhh.... Shani, ah.... t-terlalu dalem...." desah Gracia
*Cles.... cles.... hhh…*
"Ahhh Ge.... m-punya kamu....njepitnya kenceng banget, hhh...." lenguh Shani mulai meneteskan keringat yang jatuh ke atas seprai.
Kemudian, Gracia semakin mempererat cengkeraman tangannya pada pundak Shani,
"Ah! Shani.... ahh! enak banget, nghhh!" pekik Gracia saat ujung penis Shani menyentuh titik paling sensitif di dalam rahimnya.
Sambil terus menerima hentakan, Gracia meremas dan mengusap dada bidang Shani untuk menyalurkan rasa nikmatnya.
"Pegangan yang kenceng" bisik Shani
Kemudian, Shani berdiri sambil mengangkat tubuh Gracia. Dengan posisi Gracia yang kini bergantung pada tubuhnya, Shani mulai menggerakkan bokong Gracia naik dan turun.
*Plak.... plak....*
"Ahhh! Shani.... l-lebih berasa.... nghhh!" pekik Gracia, kedua kakinya refleks melingkar erat di pinggang Shani.
Seketika itu juga, bobot tubuh Gracia menekan penis Shani ke dalam lubang keintiman hingga batas maksimal. Shani terus mengayunkan tubuh Gracia naik-turun dengan tempo yang semakin cepat, menikmati jepitan dinding vagina Gracia yang terasa semakin mencengkeram di dalam sana.
"Shani.... ahh, aku.... aku mau keluar.... nghhh!" pekik Gracia
Mendengar hal itu, Shani segera mengencangkan cengkeramannya pada pinggul Gracia untuk memberikan beberapa hentakan dalam yang terakhir.
"Hhh.... bareng, Ge.... ahh!" lenguh Shani
*Cles.... cles....*
Seketika itu juga, Gracia mencapai klimaksnya terlebih dahulu. Shani langsung mengangkat tubuh Gracia tinggi-tinggi ke atas demi melepaskan penyatuan mereka.
*Plop*
*Crott croott*
Bersamaan dengan cairan sperma milik Shani menyembur kemana-mana.
Setelah itu, Shani yang sudah kehabisan tenaga langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai kayu kamar.
Kemudian, Gracia mengambil posisi berjongkok tepat di atas wajah Shani,
"Nih.... bersihin pakai lidah kamu dong" perintah Gracia
Seketika itu juga, Shani menjulurkan lidahnya ke atas untuk menyapu bersih cairan yang menetes dari vagina Gracia.
*Srupp....*
"Nghhh.... ahh...." desah Gracia saat lidah Shani menjilati klitorisnya
Selanjutnya, Shani menahan kedua paha Gracia dengan tangannya agar posisi sang kekasih tetap stabil di atas wajahnya.
"Ahhh! enak banget, hhh.... terus di situ, emhh!" rintih Gracia dengan kepala mendongak ke atas
Selanjutnya, Shani menghentikan sejenak hisapannya lalu beralih menggunakan ibu jari tangannya untuk memainkan klitoris Gracia.
"Nghhh.... Shani, ah! Enak banget di situ.... emhh...." lenguh Gracia
Shani dengan gemas menepuk bibir vagina Gracia hingga menimbulkan bunyi tepukan yang renyah.
*Plak!*
"Dasar memew birahian," godani Shani
"Biarin, kan birahinya sama kamu doang" bisik Gracia lalu mengecup bibir Shani sekilas
Setelah itu, Shani perlahan bangkit dan membantu Gracia yang masih lemas untuk berbaring miring di atas kasur. Shani kemudian memosisikan tubuhnya di belakang Gracia dan memeluk pinggangnya dengan erat dari belakang.
Seketika itu juga, Shani mengangkat satu kaki Gracia yang berada di atas agar membuka akses ke vagina Gracia.
Kemudian Shani mengarahkan kembali penisnya lalu mendorongnya masuk secara perlahan
"Nghhh.... Shani, kok masuk lagi? Ahh...," gumam Gracia sambil mendongakkan kepalanya,
"Iya, sayang.... posisi kayak gini enak," bisik Shani di tengkuk Gracia,
Selanjutnya, Shani mulai mengayunkan pinggulnya dengan penuh semangat membuat tubuh mereka berdua bergesekan
*Plak.... plak.... ces.*
"Ah! Shani.... hhh, pelan-pelan dong gerakannya.... m-masuknya dalem banget kalau miring begini, nghhh!" desah Gracia meremas paha Shani yang sedang aktif bergerak.
"Enak kan tapi? Bilang kalau kamu suka.... hhh," sahut Shani sambil terus menghentak dengan makin bersemangat.
"Iya, enak banget.... ahh!.... emhh,” kata Gracia dengan pasrah,
Shani yang berada di posisi dominan di belakang terus menggenjot dan menikmati setiap jepitan di sepanjang batang penisnya.
"Hhh.... Ge, gila.... punya kamu beneran enak banget hari ini, nghhh," lenguh Shani
"Ahhh!!" balas Gracia merasakan setiap dorongan Shani mengenai titik paling sensitif di dalam rahimnya.
Seketika itu juga, Gracia mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam rapat, hingga akhirnya mencapai klimaksnya terlebih dahulu
"ahhh! Keluar.... aku keluar lagi, nghhh!" pekik Gracia diikuti dengan aliran cairan yang membanjiri sela-sela penyatuan mereka.
Kemudian Shani mencabut batangnya yang sudah berada di ujung tanduk, Gracia langsung menggenggam batang penis Shani yang sudah sangat tegang dan mulai mengocoknya dengan gerakan naik-turun yang super cepat.
"Ge, u- udah di ujung gee! Aaaahh...." seru Shani
"Keluarin aja.... ayo," bisik Gracia
"Ahhh! Gracia.... Aghhh! .... emhh!" teriak Shani
*Crot.... crot.... crott!*
Seketika itu juga, cairan sperma Shani menyembur sebelum akhirnya mereka berdua sama-sama ambruk saling berpelukan untuk mengatur napas yang tersengal-sengal.
"Hhh.... makasih banyak ya, Ge," bisik Shani
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa untuk Follow dan tinggalin Comment blog ini agar kamu selalu mendapatkan notifikasi update cerita eksklusif lainnya. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia!
Comments
Post a Comment