SHANTUI - Karma [6.000]
Bab Ini Dikunci
Masukkan kode akses untuk lanjut membaca.
CARA BELI AKSES:
1. DM admin untuk konfirmasi pembelian.
2. Harga SHANTUI- Karma : Rp 6.000.
3. Kirim bukti transfer Anda.
4. Admin akan memberikan KODE AKSES ke Anda.
*Mohon menunggu cuy, Admin akan membalas chat Anda sesegera mungkin (1x24 jam)
Malam Pembalasan
Melihat tali yang dipegang Gracia, Shani langsung panik.
"Kalian mau ngapain?! Lepasin gua!" teriak Shani langsung meronta ketika kedua wanita itu mencengkeram kedua lengannya dengan tenaga yang tak terduga kuatnya.
“AKHHHH TOLONGGG!!” Teriak Shani
"Diem lu b4jingan! Ini waktunya lu bayar karma lu!" bentak Sisca
Dengan cepat, Gracia melilitkan tali tersebut ke pergelangan tangan Shani dan mengikatnya dengan sangat kencang hingga kulit Shani memerah.
"Sakitt Ge! Lepass!" Shani mencoba menyentakkan badannya, namun mereka langsung mendorong tubuh Shani hingga telentang di atas kasur berukuran king size tersebut.
Kemudian, Sisca langsung naik ke atas perut Shani untuk mengunci pergerakannya.
"Gracia, pretelin semuanya! " perintah Sisca penuh emosi.
setelah itu dengan agresif,Gracia melepas kemeja Shani dan dengan kasar Gracia merenggut celana panjang Shani ke bawah hingga menyisakan boxer bagian dalam,
"Kasar banget sih jadi cewekk!" teriak Shani
"Kasar? Ini belum seberapa dibanding cara lu bohongin kita berdua ya Shani!" sahut Gracia langsung menarik boxer terakhir yang melekat di tubuh Shani hingga ia kini benar-benar telanjang bulat.
"Sialan!!" umpat Shani panik bercampur malu.
"Diem atau gue bikin lu makin menderita!" bentak Gracia sambil menahan pergerakan Shani, sementara Sisca langsung mengeluarkan ponselnya.
“Gue bisa laporin kalian berdua karna ngelecehin gua ya!" ancam Shani
“Silakan," tantang Gracia.
"Sadar diri dong! Lu pikir apa yang lu lakuin ke cewek-cewek selama ini bukan pelecehan?" Kata Sisca
*Cekrek!
*Cekrek!
Merasa terancam, Shani langsung memalingkan wajahnya ke kanan kiri, berusaha menyembunyikan wajahnya dari kamera.
Ia juga menggeliatkan pinggulnya agar area intimnya menjadi blur atau terhalang.
"Sisca 4njing! Hapus gak!!" teriak Shani frustrasi.
Setelah puas mengambil gambar, Sisca menunjukkan layar yang berisi foto-foto polos Shani ke depan Shani.
"Liat ini baik-baik" kata Sisca
"Foto-foto ini udah jadi jaminan, Jadi kalo lu berani macem-macem lagi bakal gue sebarin paham?!"
Seketika Shani mendadak diam sekaligus ketakutan setengah mati.
Melihat Shani yang sudah tak berdaya dan terekspos sepenuhnya,
"Ini kan yang lu bangga-banggain? Yang sering lu pap itu kan? Hah?!"
Tanpa belas kasihan, Sisca melayangkan beberapa kali tamparan keras tepat ke arah dua buah zakar Shani menggunakan telapak tangan-nya.
*Plak!
*Plak!
"ARGHHH! B4NGSAT SAKIT!!" Shani langsung menjerit
"Rasain lu buaya sialan! Sok kecakepan lu b4jingan! Rasain ini!" umpat Gracia ikut memukul di area yang sama, membuat Shani makin meringkuk kesakitan di atas kasur sambil mengerang tertahan.
"Buka kakinya!" Kata Sisca sambil menarik kedua kaki Shani dengan kasar.
"Jangann, jangan! Gua mohon jangan di situ lagii!" teriak Shani panik.
dengan cepat Gracia mengambil sisa tali dan melilitkannya ke pergelangan kaki Shani, lalu mengikatnya ke masing-masing ujung tiang ranjang bagian bawah. Shani kini dalam posisi mengangkang leba, dan tidak bisa menutup paha sama sekali.
"Kemarin lu bangga banget kan pamer sana-sini?i!" seru Gracia penuh emosi. Gracia langsung naik ke atas kasur, disusul oleh Sisca di sisi sebelahnya. Tanpa aba-aba, Gracia menendang ke arah buah zakar Shani.
*Bugh!
"ARGHHH!! AMPUN! SAKIIIT!" jerit Shani kesakitan.
"Itu buat 1 tahun kebohongan lu ke gua!" teriak Gracia lagi, bergantian dengan Sisca yang ikut menendang ke tempat yang sama.
"Dan ini buat lima tahun lu jadiin gua bego, b*jingan!" umpat Sisca puas.
*Bugh!
"Argh!.. stop... gua mohon stop.. gua bisa mati....hiks" rintih Shani yang sudah menangis
Kondisi dua buah zakar Shani sudah tampak merah akibat hantaman bertubi-tubi. Namun anehnya, akibat rangsangan visual dari kedua wanita di atasnya yang kini yang sudah membuka pakaian mereka, bagian sensitif Shani justru mulai menegang dan berdiri keras.
"Liat Gre, dasar otak m*sum, digebukin kayak gini aja masih bisa bangun"Kata Sisca yang melihat hal itu langsung tertawa .
"Oh masih mau main rupanya? Kebetulan banget,Gua sama Sisca emang sengaja pesen kamar ini buat pake lu sampai habis malam ini"
"M-maksud kalian apa...?" tanya Shani terbata-bata menatap Gracia yang kini sudah merangkak di antara kedua pahanya
"Kita main 3some" sahut Sisca seraya merangkak naik ke dada Shani dan mencengkeram rahang model itu dengan kuat.
“Gakmmmpph”
Sisca langsung membungkam mulut Shani dengan melumat bibir Shani dengan paksa dan menahan kepala yang Shani agar tidak bisa mengelak. Di bawah sana, Gracia langsung mengulum ujung batang hangat Shani yang sudah tegang sempurna, lalu memberikan kecupan-kecupan basah di sana.
"Mmph.. Ge.. Akh..” Shani melenguh tertahan di sela-sela ciumannya Sisca.
Kemudian Sisca melepaskan tautan bibir mereka sejenak dan menyeringai melihat wajah Shani.
"Gimana? Enak kan servis dari kita berdua?" ledek Sisca sebelum kembali menggigit bibir bawah Shani.
"Ahhh.. Sis.. Ge, pelan-pelan.. Argh," desah Shani pasrah,
Melihat Shani yang mulai terangsang, sisca ikut merangkak turun ke area selangkangan, bergabung dengan Gracia untuk menghabisi aset shani.
"Gua bagian bawah ya, lu isep atasnya Gre," bisik Sisca membagi tugas
"Oke, abisin aja Sis," sahut Gracia .
*Slurp..,Chup
Suara basah ciuman dan hisapan langsung menggema di kamar hotel itu. Gracia dengan rakus menghisap bagian atas batang Shani, sementara Sisca bergantian menjilati bagian bawah hingga ke buah zakar Shani yang masih kemerahan.
"FAAAKKK! AHHH! GE, SISCA! AKHHH!"Shani menjerit dan mendesah hebat, Sensasi hisapan dari dua wanita yang dikhianatinya itu benar-benar membuatnya kehilangan akal sehat.
*Slurp.. Chup.. Ahh..
"Ahhh! Sis.. Ge.. udah.. gua mau keluar.. ahhh!" teriak Shani dengan suara serak,
" AHHH! AKHHH!"
Shani mendesah saat cairan putih kental menyembur keluar dengan deras dari ujung penisnya dan langsung membasahi wajah dan mulut kedua wanita di hadapannya. Tubuh Shani seketika lemas dengan napas tersengal-sengal.
"Jangan harap lu bisa istirahat Shan," bisik Gracia
Dengan tega, Gracia kembali mencengkeram batang Shani dan memerahnya dengan gerakan memijat dari pangkal hingga ke ujung secara paksa. Di saat yang sama, Sisca kembali melumat dan mengulum paksa bagian sensitif itu.
"Arghhh! Sakit! Jangan diperah Ge! Ampun.... ahhh!" rintih Shani karna memicu rasa ngilu teramat sangat yang bercampur dengan rangsangan paksa yang sangat menyiksa seluruh tubuhnya malam itu.
Tak butuh waktu lama, organ intim Shani kembali menegang keras akibat stimulasi paksa dari wanita itu.
Sebelum memulai ronde berikutnya, Sisca segera naik dan menuntun ujung penis Shani menuju lubang vaginanya yang sudah basah . Sesaat kemudian, Sisca langsung turun melesakkan seluruh batang Shani masuk ke dalam liang vaginanya yang menjepit ketat dalam satu gerakan cepat.
"AAAKHHH... NGGGHHH," desah Sisca tertahan dengan mata terpejam saat merasakan daging itu merangsek dinding vaginanya secara penuh hingga ke dalam.
Ketika merasakan jepitan hangat di bagian sensitifnya itu, Shani langsung mendongak dengan mulut menganga karna menahan nikmat
"Ahhh.. Sis.. ohhh.. mmmph.."lenguh Shani dengan mata yang mulai berair karena nikmat. Sialnya, di balik semua amarah tadi, Shani harus mengakui kalau jepitan vagina Sisca sangat luar biasa nikmat.
Sambil bertumpu pada dada Shani, Sisca langsung bergerak naik turun secara agresif, membuat liang vaginanya memeras batang Shani.
"Gilaaa.. lu emang.. mantep banget Shanhh pantesan cewek lu banyak," ucap Sisca di sela-sela desahannya, sementara Shani hanya bisa mendesah pasrah menerima genjotan itu.
"Ah.. ahh.. Shani.. dikit lagi.. oohhh, akh!"
Setelah beberapa kali sentakan yang melelahkan, tubuh Sisca mendadak menegang karena menuju orgasme pertamanya.
"NGGGHHH AHHH!" Sisca akhirnya ambruk di dada Shani ketika merasakan klimaks yang luar biasa nikmat, dengan napasn naik turun tak beraturan.
"Hah... hah.. Sis.. gua belum...." rintih Shani dengan mata berair.
Tatkala Sisca sudah lemas dan puas, Gracia mengambil alih giliran. Ia menepuk bahu Sisca agar segera menyingkir. "Gantian Sis. Sekarang giliran gua"
Kemudian, Gracia langsung naik ke atas paha Shani yang terikat dan memposisikan liang vaginanya yang tak kalah basah tepat di atas ujung penis Shani.
"Sekarang lu rasain servis dari aku Shan," bisik Gracia sebelum perlahan menurunkan pinggulnya,
"AHHH! GEE... LEBIH SEMPIT..AHNNNGH!" desah Shani sambil menggeleng-gelengkan kepala
Selanjutnya, Gracia langsung menggenjot shani dengan ritme yang cepat. Rasa cemburu dan dendam yang membakar hatinya disalurkan sepenuhnya ke dalam setiap hentakan yang memeras habis batang Shani di dalam liang vaginanya.
"Ahhh... ahh.. lu beneran enak banget.. ahh.. mmmh!" Desah Gracia mulai mengerang keenakan, tidak bisa membohongi fisiknya kalau performa Shani malam itu benar-benar mengagumkan.
"Shanhh.. gua mau keluar.. ah.. ahh. !" seru Gracia dengan mata membelalak,
Seketika itu juga, Shani merasakan cairan sperma di dalam dirinya siap meledak untuk kedua kalinya.
"Ge! Gua juga mau crot Ge! AHHHNGH!"
Tepat saat Gracia mencapai orgasmenya dengan erangan panjang "AHHH.. SHANI!” Gracia langsung melepaskan diri.
*Crot! *Crott!
Cairan putih Shani menyembur keluar, sebagian besar meleset dan membasahi seprai serta paha Gracia. Akhirnya, Gracia ambruk di samping Shani, menyusul Sisca yang sudah telentang lemas. Sementara itu, Shani berada dalam kondisi dibanjiri keringat hingga membasahi leher dan dada bidangnya dengan wajah merah padam sampai ke area leher.
Setelah badai klimaks itu mereda, Kedua wanita itu rupanya masih belum puas memberikan pelajaran, lalu serentak mengambil posisi tepat di sisi kanan dan kiri tubuh Shani yang masih terikat tak berdaya.
Kemudian lidah mereka mulai beraksi menyusuri area sensitif di bagian atas tubuh Shani. Sisca menjilati daun telinga kanan Shani hingga ke leher, sementara Gracia fokus menghisap puting kiri Shani.
"Ngghhh.. ahh.. gelii..”lenguh Shani dengan tubuh yang menggeliat untuk mencoba menghindar namun terkunci oleh pelukan erat dua wanita itu sekaligus.
Sasaat kemudian, mereka berdua merapatkan tubuh polos mereka lalu menempelkan payudara kenyal mereka tepat ke depan wajah Shani secara bergantian.
"Isep, Jangan cuma didiemin aja," perintah Gracia dengan suara serak yang seksi, menekan dadanya lebih rapat ke bibir Shani.
Mendengar perintah itu, Shani yang sudah kehilangan seluruh egonya hanya bisa menurut pasrah. Ia membuka mulutnya dan mulai menghisap puting Gracia dengan rakus hingga memicu desahan manja dari wanita itu.
"Ahh.. mmmh.. pinter banget sih b4jingan ini.." desah Gracia seraya mengelus rambut Shani.
Beberapa saat kemudian, Sisca menggeser tubuh Gracia untuk bergantian menyodorkan dadanya ke mulut Shani. Suara kecapan basah dari bibir Shani yang menghisap puting mereka bergantian .
"Muka kamu padahal polos dan imut gini ya," ucap Sisca sambil terkekeh geli melihat kepatuhan Shani di bawah kuasanya.
"Iya, lucu sih aslinya kalau di ranjang begini. tapi emang harus diakui servisnya enak," timpal Gracia dengan senyuman penuh kemenangan,
Tatkala obrolan mereka mereda, Gracia dan Sisca serentak melirik ke arah milik Shani yang kini sudah benar-benar lemas dan lunglai di antara kedua pahanya .
Menyadari arah tatapan berbahaya itu, Shani langsung membuka matanya dengan raut ketakutan.
"J-jangan diapa-apain lagi pliss... udah gak kuat, beneran.." rintih Shani dengan suara memelas dan hampir menangis karena takut asetnya akan dihajar lagi.
Melihat itu, Gracia dan Sisca justru mendekatkan wajah mereka lalu bersamaan mengecup pipi kanan dan kiri Shani dengan lembut.
"Tenang aja, kita gak bakal ngapa-ngapain lagi kok," bisik Sisca menenangkan,
"Kita cuma mau bersihin punya kamu aja, Kasian itu basah banget kena cairan kita sama sisa sperma kamu sendiri," sahut Gracia seraya meraih selembar kain handuk kecil yang sudah disiapkan di dekat kasur.
Selanjutnya, dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan, Gracia dan Sisca lalu mengelap milik Shani dan membersihkannya dengan telititelaten dari ujung hingga ke area bagian paling bawah.
"Tapi dipikir-pikir, kalo lagi lemes begini ternyata gak ada apa-apanya ya," ledek Sisca sambil menyentil ujung milik Shani yang tak bertenaga itu, membuat Gracia langsung tertawa mendengarnya.
"Aw! sakit tau!" keluh Shani dengan wajah merengut,
"Mana lebat banget kek hutan, untung aja bersih" ledek Gracia mengelap area rambut kemaluan Shani dengan handuk basah.
"Emangnya punya kalian berdua gak pernah buluan apa?!" sahut Shani tidak terima
"Kita berdua mah rajin cukuran! Gak kayak kamu yang dibiarin gondrong begini" kata Gracia
Aww!
"Sakit anj*ng!" teriak Shani karena tiba-tiba saja Sisca dengan iseng mencabut satu helai rambut kemaluannya.
Sisca dan Gracia langsung tertawa puas melihat Shani yang meringis kesakitan akibat keisengan mereka.
"Lagian lu malah ngelawan sih, rasain tuh!" ledek Sisca sambil membersihkan helai rambut itu dari jarinya.
"Iya bener. Plusnya punya dia emang enak banget pas dipake tadi, tapi minusnya ya.."
"Minusnya apaan emang? Padahal tadi kalian berdua juga keenakan sampai merem melek," sahut Shani membela diri dengan suara yang masih serak.
"Heh gak usah sombong ya! Tapi boleh lah.. untung kamu udah dipotong Shan. Jadinya pas dimainin tadi makin enak karena palkon nya gak ketutup kulit. Coba kalau belom, ogah banget gua sama Sisca suruh ngulum kulit ngelawer" kata Gracia
"Nah, Seenggaknya gak bikin geli. Makanya tadi kita betah lama-lama" tambah Sisca seraya memberikan usapan terakhir pada buah zakar Shani sebelum melemparkan handuk kotor itu ke lantai.
“Huhft” Shani hanya bisa menghela napas pasrah membiarkan kedua wanita itu menilai bentuk fisiknya secara blak-blakan.
Setelah beberapa saat, Shani menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Tatkala Gracia dan Sisca mulai beranjak dari kasur untuk merapikan pakaian mereka kembali, Shani perlahan menolehkan kepalanya yang terasa sangat berat.
"Ge.. Sis..." panggil Shani dengan suara yang terputus-putus,
Sisca yang sedang mengancingkan kembali bagian belakang dressnya hanya menoleh sekilas "Apa lagi? Masih kurang?"
"Bukan, G-gua mau minta maaf," ucap Shani,
"Gua minta maaf karena udah jadi b*jingan selama ini. Gua minta maaf udah mainin kalian berdua, gua sadar gua salah"
Gracia yang sedang mengikat rambutnya terdiam sejenak, lalu berjalan mendekati sisi ranjang tempat Shani masih terikat.
"Maaf lu gak bakal bisa ngapus semua kebohongan lu yang busuk itu Shan. Tapi setidaknya lu sekarang udah tau rasanya dihancurin begini" kata Gracia
Selanjutnya, Shani memejamkan matanya rapat-rapat, memantapkan keputusan yang sejak tadi berkecamuk di kepalanya setelah mengalami malam pembalasan yang begitu mengerikan ini.
"Iya..Gua janji gak bakal ganggu kalian lagi. Gua bakal udahin semua urusan kita di sini..dan gua gak bakal nemuin kalian lagi," kata Shani dengan nada pasrah.
"gua mau pergi keluar negeri setelah ini. Gua mau pergi jauh" kata Shani lemas.
Mendengar pengakuan itu, Sisca berjalan mendekat dan berdiri di samping Gracia dan menatap Shani.
"Baguslah kalo sadar diri. Pergi yang jauh, dan jangan pernah tunjukin muka lu itu di depan kita lagi" kata Sisca
Seketika itu juga, Gracia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari tasnya membuat Shani sempat tersentak panik, namun Gracia hanya menggunakannya untuk memotong tali yang mengikat kedua tangan dan pergelangan kaki Shani hingga terputus.
*Sret!
Sret!*
Begitu ikatan terlepas, Shani langsung menarik kedua kaki-nya dengan gemetar dan meringkuk memeluk lututnya sendiri. Ia benar-benar kena mental. ia tidak akan pernah berani lagi bermain-main dengan perasaan wanita seumur hidupnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Gracia dan Sisca berbalik arah secara bersamaan.
Mereka melangkah menuju pintu kamar dan berjalan keluar meninggalkan Shani sendirian di dalam kamar hotel.
Malam pembalasan itu resmi berakhir, meninggalkan Shani yang hanya bisa menangis dalam penyesalan.
End.
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa untuk Follow dan Comment blog ini agar kamu selalu mendapatkan notifikasi update cerita eksklusif lainnya. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia!
Comments
Post a Comment