SHANTUI - Putri Raja dan Pemburu [7.000]
Bab Ini Dikunci
Masukkan kode akses untuk lanjut membaca.
CARA BELI AKSES:
1. DM admin untuk konfirmasi pembelian.
2. Harga SHANTUI-Putri Raja dan Pemburu : Rp7.000.
3. Kirim bukti transfer Anda.
4. Admin akan memberikan KODE AKSES ke Anda.
*Mohon menunggu cuy, Admin akan membalas chat Anda sesegera mungkin (1x24 jam)
Malam itu,Mereka berdua berbaring miring saling berhadapan. Gracia hanya mengenakan kain yang melilit longgar ditubuhnya membuat area bahu hingga dadanya terekspos sebagian.
Di sana, Shani yang semula mencoba fokus mengobrol malah terus-menerus melirik ke arah dada Gracia yang naik turun teratur seiring helaan napasnya.
Sementara Gracia yang menyadari arah pandangan suaminya sejak tadi ,
" kamu kalau mau, bilang saja. Jangan cuma dilihat terus seperti itu," kekeh Gracia
"B-boleh ?" jawab Shani sambil menelan ludah.
Kemudian Gracia membuka kain jarik menutupi bagian atas tubuhnya, lalu membiarkan kain itu melorot turun hingga sebatas pinggang.
Melihat pemandangan di depannya, Shani seketika langsung salah tingkah sendiri. Ternyata lekuk tubuh sang putri luar biasa indah. Kedua payudaranya padat, kencang, dan berbentuk bulat sempurna kini terekspos sepenuhnya di depan mata Shani, dengan puting yang berwarna merah muda.
Shani benar-benar terpesona hingga tenggorokannya mendadak terasa kering.
"Tubuhmu indah sekali, Gracia. Benar-benar cantik," puji Shani
"boleh aku menyentuhnya?"
Gracia hanya mengangguk dengan tatapan mata yang sayu lalu menuntun telapak tangan shani untuk menyentuh dadanya yang lembut.
Shani kemudian meremas payudara istrinya itu dengan sangat hati-hati.
"Ngggh.." Gracia melenguh merasakan remasan tangan Shani
Karna Shani semakin penasaran,ia mendekatkan wajahnya pada dada Gracia.
Dengan perlahan, Shani mengecup area sensitif itu, lalu melingkarkan bibirnya di sekitar puting muda yang sudah mengeras tegang, kemudian mulai mengisapnya dengan lembut.
"Nngghhh.... Ahh, Sha-Shani......" Gracia meremas rambut Shani erat-erat seiring dengan desahan panjangnya.
Sentuhan basah dari lidah dan isapan Shani benar-benar membuatnya merinding sampai ke ujung kaki.
Shani terus mengisap dan menyesapnya selama beberapa saat, bergantian antara sisi kiri dan kanan. Namun, setelah beberapa saat mencoba, Shani tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. Ia mendongak dengan wajah polos yang dipenuhi rasa bingung.
"Gracia, kok tidak keluar susunya?" tanya Shani polos sambil mengusap bibirnya yang basah. "Padahal aku sudah mengisapnya seperti ini. Apa aku ada yang salah?"
Mendengar itu Gracia langsung membuka matanya.
"Ahaha Shani, ampun deh" Gracia mengusap wajah Shani yang masih kelihatan bingung itu dengan gemas. "Ya tidak akan keluar air susunya, Aku kan belum mengandung apalagi melahirkan"
"Oh....begitu ya?" Kata Shani langsung merona m karena baru menyadari kebodohannya sendiri. "Maaf, aku pikir karena namanya susu, langsung ada susunya"
"Ih, polos sekali sih" goda Gracia sambil menarik leher Shani agar kembali mendekat ke dadanya.
"Kalau mau keluar susunya, makanya kamu harus buat aku mengandung dulu. Ayo lanjut lagi yang tadi, aku suka....” bisik Gracia
Mendengar bisikan Gracia, Shani kembali menyusu dengan rakus, sementara kedua tangannya meremas gundukan padat itu bergantian
"Aahh...... Shhh, Shani..... le-lebih kuat......"
Setelah puas memanjakan bagian atas, Shani melirik ke bagian bawah istrinya.Gracia yang peka, lalu membimbing jemari shani menyentuh ikatan kain nya.
"Buka saja kainnya kalau kamu penasaran, Milikku sepenuhnya sudah jadi milikmu sekarang," bisik Gracia mengizinkan Shani untuk menuntaskan rasa ingin tahunya malam itu.
Shani lalu menarik ikatan kain itu hingga terlepas dan menyibaknya.
Seketika mengekspos bagian bawah tubuh Gracia seutuhnya, Shani mengamati area kewanitaan Gracia yang begitu indah, bersih, dan tampak merona merah muda di sela kedua paha mulusnya.
"Nggghh. Shani, jangan terus memandanginya seperti itu, aku malu” gumam Gracia
Meskipun berucap demikian, Gracia yang sudah telanjur birahi , ia menekuk kedua lututnya dan membuka kedua kakinya sedikit lebih lebar,
Melihat itu, Shani langsung memosisikan tubuh kekarnya di antara kedua paha Gracia yang terbuka.
"Sentuh..... Kumohon... Aku sudah tidak tahan" rintih Gracia dengan terputus-putus,
"Izin aku menyentuhnya," bisik Shani langsung mengusap milik Gracia yang berbulu halus itu. Dengan jarinya, Shani mulai mengusap lembut bibir luar area kewanitaan Gracia yang sudah sangat basah.
"Aaaahhh..... mmmph," lenguh Graci meremas kasur dengan erat saat merasakan sentuhan langsung di area sensitifnya.
Shani lalu menyelipkan satu jarinya ke sela-sela lipatan dan mengusap tonjolan kecil yang merupakan pusat kenikmatan Gracia.
Ia memutar dan menekan bagian itu dengan ritme yang teratur, membuat cairan alami Gracia semakin melumuri jemarinya.
"Nggghhh..... Shanhh, hhh..........." Erang gracia
Kemudian Shani memasukkan jari tengahnya ke dalam lubang keintiman Gracia yang sempit dan hangat. Dinding bagian dalam Gracia langsung menjepit jari Shani dengan ketat, lalu ia mulai menggerakkan jarinya maju mundur dengan perlahan,
"Aaaahhh! .. mmmph, nggghhh!"Desah Gracia semakin melengking tinggi sambil meliuk-liuk pasrah mengikuti ritme jemari Shani yang bergerak
Melihat Gracia yang sudah pasrah, Shani menarik keluar jarinya yang basah oleh cairan alami sang putri.
Tanpa membuang waktu, Shani menarik kedua paha mulus Gracia dengan kuat agar posisi intim istrinya itu semakin dekat.
Shani lalu menghirup aroma khas kewanitaan Gracia untuk mencicipi rasa dari cairan pekat yang membanjiri area sensitif tersebut.
"Ahhh! Shani! K-Kamu mau apaaaahhh!" Seketika Gracia terlonjak kaget sampai membelalakkan matanya saat merasakan lidah Shani langsung menyapu permukaan vaginanya.
Ternyata, Shani tidak sepolos yang dikira.shani ternyata tahu persis cara memuaskan seorang wanita.
Ia menjilati area sensitif itu dengan rakus dari bawah hingga ke atas, lalu memberikan isapan-isapan kuat di tonjolan kecil Gracia.
"Nngghhh...... Ahh! S-Shani..... rahimku seperti ditarik........ Ahhh!" Gracia mencengkeram sprei kasur dengan luar biasa erat,
Slurp........ Ckhh........ Sluurph........
Cairan bening yang membanjiri area intim sang putri kini melumuri seluruh bibir dan dagu Shani, membuatnya tampak semakin liar.
Kemudian Shani sengaja memperlambat gerakannya. Shani menjulurkan lidahnya melewati lubang hingga akhirnya berhenti tepat di atas klitoris yang kini sudah membengkak karena birahi.
*Slurp.
Shani menekan ujung lidahnya di sana dan memutarnya lambat
"Aaaahhh! Shani........ mmmph, ngggh, jangan lambat-lambathhhh.. aku bisa gila..akkhhh...." rintih Gracia
*Slurp........ Ckhh!
Mendengar rintihan istrinya, Shani langsung mengubah ritme gerakannya menjadi jauh lebih cepat. Ia mengulum seluruh klitoris itu ke dalam mulutnya, lalu mengisapnya dengan kuat sembari memainkan lidahnya dengan gerakan melingkar tanpa ampun.
"AHHH! ........ AAAAHHH!"
DI puncak rasa nikmat yang tak tertahankan itu, kedua paha Gracia langsung Menjepit kepala Shani
"Nngghhh! AAAAAAHHHHH!!!"
Area intim gracia berdenyut-denyut dengan sangat kencang lalu menyemprotkan cairan pelepasannya dalam jumlah banyak langsung masuk ke dalam mulut Shani.
Gracia terus menjepit kepala Shani dengan erat sembari terengah-engah sambil menikmati sisa nikmat yang terasa.
Meskipun Gracia sudah mendapatkan klimaksnya, Shani justru sengaja menjulurkan lidahnya kembali.
*Slurpp
Ia menghisap sisa-sisa cairan yang masih membanjiri lubang keintiman Gracia dengan gerakan lambat. dengan ujung lidahnya yang bergerak menusuk2 lubang yang masih sensitif pasca-klimaks.
"Ah! Shani! Hahaha. mmmph, su-udahhh geli!" pekik Gracia menggeliat di atas kasur dan mencoba menarik pinggulnya mundur karena merasa digelitiki.
Namun Shani menahan pinggul Gracia dengan kedua tangannya dan tetap menempelkan wajahnya di sana sambil terus memberikan jilatan-jilatan yang menggoda, menikmati setiap respons manja dan tawa tertahan dari sang putri.
"Shani ih! Berhenti dulu, benar benar geli sekali, ampun!" rintih Gracia sambil memukul-mukul bantal dengan wajah yang memerah padam karena sisa birahi dan rasa geli yang bercampur aduk
Shani akhirnya melepaskan paha Gracia dan memperlihatkan sudut bibir dan dagunya yang basah mengilap. Ia terkekeh pelan melihat wajah istrinya yang masih kemerahan dan napasnya yang putus-putus.
"Kamu menggemaskan sekali kalau sedang pasrah begini, Cah Ayu," puji Shani sambil tertawa
"Enak saja tertawa! Gantian kamu sini! Cepat mendekat!" seru Gracia
Bukannya menuruti perintah Gracia, Shani malah sengaja menjaga jarak.
"Memangnya kamu mau melakukan apa, hm?" goda Shani,
"Shani, ih! Jangan memancing amarahku ya!" Gracia yang sudah kepalang birahi
Ia merangkak dan meraih suaminya yang menyebalkan itu. Gracia melirik celana Shani, ia melihat sesuatu yang tegang sudah menyembul, hingga mencetak bentuk.
Gracia langsung mengulurkan tangannya dengan agresif, mencengkeram pinggiran celana Shani dan berniat menariknya turun paksa. "Sini tidak! Kamu sudah membuatku berantakan, jangan harap bisa kabur!”
Shani yang tidak menyangka Gracia akan se-agresif itu akhirnya kalah telak. Gracia berhasil menyingkap hingga bisa melihat milik Shani yang sudah berdiri keras.
Tanpa ragu, Gracia langsung menggenggam batang milik Shani lalu menariknya dengan gemas agar tubuh Shani terseret mendekat ke arahnya.
"Aduh, aduh! Gracia, ampun! Pelan-pelan, Sayang, sakit kalau ditarik begitu!" Keluh Shani dengan ekspresi lucu.
Setelah posisi Shani dekat, Gracia menatap benda di genggamannya itu dengan tatapan usil. Gracia mengetuk lubang ujungnya dan mengelusnya naik-turun membuat milik Shani refleks berkedut dan bergerak-gerak sendiri secara alami.
Melihat benda itu bergerak-gerak responsif setiap kali disentuh, Gracia langsung tertawa
"Hahaha! Punyamu lucu sekali bisa bergerak-gerak sendiri," goda Gracia sambil terus mengisenginya.
"Kira-kira seperti buntut kuda, tapi anehnya tumbuh di depan!"
"Sembarangan! Ini bukan buntut, Gracia” protes Shani menahan malu sekaligus gairah yang semakin menyiksa karena perbuatan tangan istrinya.
Tangan gracia lalu bergerak naik-turun di sepanjang batang Shani. Dengan sengaja, Gracia memutar ibu jarinya di bagian ujung yang mulai mengeluarkan sedikit cairan bening ia, mengusapnya perlahan hingga permukaannya semakin licin dan sensitif.
"Nngghhh...... Gracia, hhh...... hentikan dulu, atau aku bisa lepas kendali," erang Shani
Bukannya berhenti, Gracia justru mendongak dan memberikan senyuman nakal.
Ia menundukkan kepalanya sedikit, lalu memberikan tiupan-tiupan yang hangat dari ke arah kejantanan Shani, sebelum akhirnya menempelkan ujung lidahnya di bagian kepala penis Shani.
"Aaaah, Gracia!"
Melihat respons Shani, Gracia mempercepat ritme kocokan tangannya, membuat aset Shani itu semakin berkedut kencang di dalam genggaman tangannya.
Tanpa aba-aba, Gracia menundukkan kepalanya lebih dalam dan langsung melingkarkan bibir manisnya di sekitar ujung kejantanan Shani. Ia mengulumnya sambil memutarkan lidahnya.
*Slurp.......
"A-Ahhh!........ nggghhh!"
Serangan mendadak itu membuat Shani reflek membungkuk ke depan.
Gracia yang mendongak sedikit bisa melihat bagaimana ekspresi Shani yang begitu tersiksa oleh nikmat. Ia sengaja merapatkan giginya sedikit.
*Ngap
Ia memberikan gigitan pelan yang gemas tepat di kepala penis shani.
"Akhh! Gra-Gracia! Ssshh........ ampun, Sayang......"
Dengan memosisikan dirinya bersimpuh di antara kedua paha Shani, ia mengulum milik shani sedalam mungkin hingga rongga mulutnya terasa penuh dan mengisapnya dengan gerakan maju-mundur yang sangat cepat,
*Slurp........ ckh........ sluuph......
Dii dalam kuluman itu, ujung lidahnya bergerak liar; menyapu, menjilat, dan memutari bagian kepala hingga ke leher kepala penis Shani dengan ritme yang tak beraturan.
Serangan yang begitu bertubi-tubi itu membuat Shani benar-benar kewalahan.
"Aahhh..... Graciahhh.... ssshh,kamu ra-rakus sekali........ mmmph...." erang Shani mencengkeram erat bahu mulus Gracia,
*Sluurph........ Ckh........*
"Gracia........ Hhh........ A-Aku sudah tidak tahannn!" seru Shani sampai melompat-lompat
"Nngghhhhh! Gra-Graciaaa!"
*Crot ! *Crott!
Shani mendongak dengan mata terpejam saat cairan pelepasan meledak di dalam mulut Gracia,
sembari terengah-engah hebat, sang putri dengan patuh menelan sisa-sisa cairan milik suaminya.
Gracia lalu melepaskan kulumannya lalu
menatap Shani yang lemas.
"Ih Cepat sekali keluarnya, goda Gracia "Padahal aku baru saja mulai menikmati permainannya, "
Shani yang masih berusaha mengatur napasnya yang memburu langsung membuka mata.
"itu karena kamu memainkannya terlalu hebat, Gracia!" bela Shani "Siapa yang tahan kalau diisap serakus itu oleh istri secantik kamu?"
Mendengar itu, Gracia melingkarkan kedua lengan nya di leher Shani, menarik tubuh Shani agar kembali menempel pada tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun.
"Hahaha, iya iya, aku terima alasannya," bisik Gracia manja tepat di depan wajah Shani hingga hidung mereka saling bersentuhan.
" Sekarang giliranmu.”
Mendengar tantangan dari istrinya, Shani langsung melumat bibir gracia.
*Mmph.......
Shani melumat bibir bawah Gracia untuk sengaja mengulur waktu demi mengumpulkan kembali tenaganya yang sempat terkuras habis. Dan Gracia menyambutnya dengan , memperdalam lumatan mereka
*Chup........ Sluurph..... Ngggh......
Kemudian Shani memiringkan kepalanya untuk memperluas akses agar lidahnya bisa menyelinap masuk ke dalam rongga mulut Gracia yang hangat .
Lidah mereka saling membelit, Shani mengisap lidah Gracia dengan lembut namun penuh penekanan, membuat sang putri melenguh pelan di dalam ciuman itu
*Ckh...... Mmph...... Sluph....
"Nngghh..... Sha-Shani.... mmmph...." Gracia melenguh
Lumatan itu berlangsung lama, karna. Shani terus memanjakan bibir Gracia dengan jilatan dan isapan-isapan yang memabukkan, sembari merasakan perlahan-lahan aliran darahnya kembali berdesir kencang di bagian bawah tubuhnya.
Kejantanannya yang semula melemas kini kembali menegang keras
*Chup.... Ckh..
Shani perlahan melepas ciuman nya, menyisakan benang air liur tipis yang menghubungkan bibir mereka
"Bagaimana? Pemulihanku sudah selesai," bisik Shani
Perlahan, Gracia menarik kedua lututnya mendekat ke dada, lalu membuka kedua kaki dengan sangat lebar hingga mengekspos penuh area intimnya yang sudah basah di bawah kungkungan Shani.
“Cepat..... Masukan sekarang, kumohon......Aku sudah sangat ingin" mohon Gracia
Bukannya langsung menuruti permintaan Gracia, ia justru menggenggam kejantannya sendiri, mengocoknya beberapa kali di depan mata Gracia yang menatapnya dengan penuh harap.
Kemudian, Shani menurunkan tubuhnya dan menempelkan bagian kepala penisnya yang di atas klitoris sensitif Gracia yang sudah membengkak.
Shani lalu menggesek-gesekkan kepala penisnya di sana berkali-kali.
"Aaaahhh! Shani! Ssshh........ mmmph, apa yang kamu lakukan ahhh!"
"Sabar,..... Kita nikmati pelan-pelan dulu," bisik Shani jahil, sengaja terus menggesekkan ujung miliknya
"Shani, ih! J-Jangan digesek-gesek saja... hhh..... masukkan! Aku frustrasi, Shani, aaahhh!" rintih Gracia sambil mencengkeram erat bahu Shani,
Karena sudah tidak tahan lagi Gracia tiba-tiba mencengkeram pinggang Shani dengan kedua tangan dan kakinya, lalu memajukan pinggulnya sendiri ke depan, membuat vagina nya langsung melesak memakan habis milik Shani.
*Splap!
"Aaaaahhhhh!"
mereka kompak mendesa keras, Shani benar-benar terbelalak kaget sama sekali tidak menyangka kalau Gracia akan seberani dan se-agresif itu hanya karena sudah terlanjur birahi. Sensasi hangat, jepitan yang teramat ketat, dan kelembapan dinding dalam Gracia langsung menjepit miliknya hingga ke pangkal.
"A-Ahhh.. S-Shani.... ssshh... hhh........ sakit...." rintih Gracia hingga sudut matanya langsung mengeluarkan air mata karena perih yang teramat sangat akibat penetrasi yang terlalu mendadak dan dalam. Ia menahan rasa sakit karena area sensitifnya dipaksa melebar sekaligus tanpa adaptasi terlebih dahulu.
"Gracia! Astaga..... Maaf, Sayang, maaf!" seru Shani panik, Ia langsung menumpu seluruh beban tubuhnya pada kedua sikutnya agar tidak semakin menekan Gracia ke kasur.
Shani tidak berani bergerak maju ataupun mundur. Ia membiarkan miliknya tetap diam mematung di dalam keintiman Gracia yang menjepitnya dengan luar biasa kencang dan berdenyut-denyut.
"Ssshh...... diam dulu ya, jangan bergerak, . Tarik napas perlahan Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu akan langsung memajukan badan seperti itu," bisik Shani mengusap air mata di pipi Gracia
Kemudian Gracia mengangguk dengan bibir yang masih melengkung menahan tangis. Mengikuti instruksi suaminya, ia mencoba mengatur napasnya yang tidak teratur, menarik napas dalam-dalam lewat hidung lalu mengembuskannya perlahan lewat mulut.
Melihat kepatuhan istrinya, Shani terus membisikkan kata-kata penenang sembari wajah Gracia demi mengalihkan rasa sakitnya.
"Bagaimana,? Masih sakit?" bisik Shani lembut,
"Sudah..... sudah mendingan,," jawab Gracia jujur dengan suara yang masih agak parau.
"Boleh aku mulai bergerak?" izin Shani membuat Gracia melingkarkan kembali kedua kaki mulusnya ke pinggang Shani.
"Boleh, Bergeraklah," kata Gracia pasrah.
Mendapat lampu hijau, Shani perlahan menarik pinggulnya mundur hingga hampir ke ujung, lalu mendorongnya kembali masuk ke dalam dengan gerakan yang lembut namun bertenaga.
*Splash.......
"Aaaahhh...... Gracia merasakan kenikmatan yang luar biasa dahsyat.
Sama halnya Shani yang merasakan Gracia yang begitu pas juga tidak bisa menahan desahannya. Ia mulai menaikkan ritme gerakannya, menciptakan perpaduan suara gesekan basah dan erang kepuasan yang memenuhi kamar tidur mereka.
*Splash...... splap......
"Nngghhh.... Gracia...... Ahhh... Ssshh, sempit sekali di dalam sini, ....hhh........" erang Shani
Shani meremas sepasang payudara Gracia yang kenyal ,ia memijatnya dengan lembut l, sesekali memainkan ujungnya dengan ibu jari hingga membuat Gracia semakin histeris di bawah kungkungannya.
"Aaaahhh! Sha-Shani........ mmmph, ngggh...... Nikmat sekalihh...... hhh........ remas lebih kuat, ...... ahhh!" pekik Gracia menahan nikmat,
Shani langsung mempercepat ayunan pinggulnya,
*Splap...... splap...... splap........*
"Ah! Ah! Shani..... ssshh...... hhh...... ngggh, d-dalam banget, Ahhh!"
Keringat Shani sendiri sudah mulai bercucuran dari dahi dan pelipisnya, menetes jatuh mengenai dada mulus Gracia yang naik-turun dengan cepat.
"Nngghhh........ Gra-Gracia........ ssshh, ahhh...... kamu nikmat sekali cantik....... hhh........ ahh!" erang Shani,
*Splap...... splap...... splap!*
"Nngghhh........ Gracia........ hhh........ aku sudah di ujung........ ssshh, ah!" erang Shani
Gracia yang merasakan perubahan ritme suaminya hanya bisa mencengkeram erat punggung Shani sembari mendesah pasrah.
"Ah! Ahhh! Shaniii—"
"AAAAHHH, GRACIAAA!"
Shani meloloskan lenguhan panjang yang begitu berat saat puncak pelepasan itu tiba. Tubuhnya tersentak hebat, dan dengan satu hentakan dalam yang mengunci pinggul mereka, Shani menyemburkan cairan hangatnya yang kental dan deras langsung di dalam rahim Gracia.
Pelepasan yang begitu dahsyat membuat Shani lemas seketika. Ia ambruk ke depan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Gracia sembari terengah-engah hebat dengan dada yang naik-turun menikmati sisa-sisa kedutan nikmat dari penisnya.
Gracia yang masih tertinggal langsung mengerucutkan bibirnya kesal melihat Shani sudah terkulai lemas di atas dadanya.
"Shani! Enak saja sudah lemas duluan, aku belum keluar!" protes Gracia
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Gracia mencengkeram bahu Shani lalu mendorong tubuh suaminya itu dengan paksa agar berbaring telentang di atas kasur.
Tanpa melepaskan milik Shani Gracia langsung bertukar posisi hingga kini ia berada di atas tubuh Shani.
"Sekarang giliran aku yang kejar!" ucap Gracia langsung menyentak pinggulnya naik-turun dengan agresif. Ia menggenjot tubuh Shani dengan ritme yang cepat dan menuntut demi mengejar klimaksmya sendiri.
*Splap..... splap........ splap!
"Akh! ... hentikan sebentar! Ahhh!" Shani langsung mencengkeram pinggang Gracia.
Pasca mengeluarkan cairannya, bagian sensitif Shani masih dalam kondisi teramat sangat peka. Setiap kali Gracia menumbuk dan mendudukinya, saraf-saraf di kejantanannya terasa seperti disengat aliran listrik yang teramat ngilu namun juga luar biasa nikmat secara bersamaan
"Nngghhh! Gracia, a-ampun..... ssshh! Terlalu ngilu,...... Ahhh!" teriak Shani lagi,
Tapi Gracia tidak memedulikan teriakan perih-nikmat Shani. Ia justru semakin mencengkeram kuat dada bidang Shani, menjadikannya tumpuan agar genjotannya semakin dalam dan bertenaga
*Splap! Splap! Splap!*
Di bawah sana, Shani benar-benar dibuat tidak berdaya. Matanya menatap lekat ke atas, memperhatikan pergerakan dada Gracia yang naik-turun dengan cepat mengikuti ritme pinggulnya yang liar. Payudara sang istri bergoyang indah dan sensual, memantul-mantul di depan mata Shani yang kini benar-benar kehilangan kontrol.
"A-Ahhh..... Gracia..... ssshh, pelan...... ahh, gila........ ngilu sekali, tolongg!" desah Shani sambil menganga karena sensasi gesekan di dalam sana yang berkali-kali menghantam titik terdalamnya
"Shani..... aku...... hhh..... aku mau keluar! Ahh! Shaniiii!"
Dengan satu hentakan terakhir yang sangat dalam Gracia mencengkeram kejantanan Shani dengan begitu kuat.
"AAAAHHHHHH!"
Gracia mendesah saat mencapai klimaksnya.
*Brukk!*
Gracia langsung ambruk di dada Shani yang masih naik-turun dengan cepat. Keduanya terengah-engah dalam posisi yang saling mengunci
*Sshhh........ hhh.....
Di sana penyatuan mereka masih belum terlepas. Karena Gracia baru saja mencapai puncak klimaksnya, dinding-dinding vaginanya terus berkedut-kedut kencang se, menjepit erat milik Shani yang sebenarnya sudah mulai melunak.
"Nngghhh..... ssshh......" Shani melenguh mencengkeram pinggang Gracia.
"Gracia... hhh.....lepaskan dulu. Milik mu di dalam sana masih berkedut-kedut, ngilu tahu...."
"Salah sendiri kenapa keluar duluan!" omel Gracia sambil mencubit dada Shani.
" Baru begitu saja sudah tumbang. Padahal aku masih mau main lama, tahu-tahu kamu sudah lemas duluan. Kan aku jadi harus berjuang sendiri tadi buat ngejar!"
"Iya, iya, maafkan aku....... Habisnya lubangmu kamu nikmat sekali” bisik Shani lembut
Gracia lalu mengangkat pinggul nya sedikit agar penyatuan mereka terlepas.
*Plop.....
Suara basah yang samar terdengar saat milik Shani terlepas dari lubang Gracia yang masih basah kuyup.
Gracia mendengus , berniat menggulingkan tubuhnya ke samping kasur untuk tidur, namun Shani dengan cepat menahan pergelangan tangannya.
"Mau ke mana? Katanya tadi masih mau main lama?" bisik Shani
"Kan Kamunya sudah tumbang, . Mau main pakai apa lagi?"
Sebagai gantinya, sjani menarik tangan Gracia untuk menyentuh penis mya.
"Tadi kamu sudah puas di atas. Sekarang, bagaimana kalau kita coba posisi lain? Kamu menungging ya,... Aku coba mau dari belakang. Aku janji, ronde ini tidak akan cepat selesai," tantang Shani
"I-Iya...," bisik Gracia
Sebenarnya, ada rasa kesal campur sedih yang tertahan di dadanya sejak ronde pertama.
Di dalam hati, Gracia tadi benar-benar ingin menangis karena merasa ditinggal duluan saat Shani keluar begitu cepat, membuatnya harus bersusah payah mengejar klimaks sendirian dengan rasa frustrasi .
"Eh.. cup, cup..., jangan menangis," bisik Shani
"Maafkan aku yaa. Maafkan suamimu ini," lanjut Shani lalu memeluk tubuh polos Gracia erat-erat dan membiarkan kepala istrinya bersandar di dadanya. "Tadi aku benar-benar kehilangan kendali, aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendirian tadi. Jangan sedih lagi ya,?"
"Janji ya..... ronde ini harus lama?" cicit Gracia manja,
"Iya, janji, Aku akan bergerak pelan-pelan sekali dari belakang, khusus untuk memanjakanmu malam ini," jawab Shani sembari mereka bersiap mengubah posisi.
Gracia lalu bertumpu pada kedua lutut dan siku di atas empuknya kasur. Sementara Shani berlutut tepat di belakang pinggul Gracia dan menatap lekat area intim istrinya yang masih basah dan kemerahan pasca-ronde sebelumnya.
"Aku masukin ya?" bisik Shani yang dibalas anggukan.
Kemudian Shani mengarahkan kembali milik ke celah lubang Gracia. Shani mendorong pinggulnya maju dengan sangat lambat, membiarkan miliknya melesak masuk senti demi senti, memberikan waktu bagi dinding dalam Gracia untuk menyambut dan mendekap ukurannya dengan nyaman.
*Sssph......
"Nngghhh......"
Setelah tertanam sepenuhnya, Shani menepati janjinya untuk tidak egois. Ia memeluk tubuh Gracia dari belakang dan mengusap perut rata istrinya dengan sayang, sementara bibirnya sibuk menghujani punggung, bahu, dan tengkuk Gracia dengan kecupan-kecupan.
Lalu Shani mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang sangat lambat,
Dorongan-dorongannya dibuat lembut, sengaja berfokus pada titik-titik sensitif Gracia yang paling disukai istrinya itu.
*Splap..ssplap....
"Ah... ssshh.. hhh..enak,.." rintih Gracia mulai menikmati setiap sodokan yang diberikan suaminya.
Shani memperhatikan setiap perubahan suara desahan Gracia. Jika Gracia melenguh terlalu tinggi karena kewalahan, Shani akan langsung memperlambat gerakannya atau bahkan diam sesaat sembari memanjakan dada Gracia dari belakang, memastikan istrinya benar-benar terbuai dalam nikmat yang merata tanpa rasa tertekan.
*Splap..... splap.....
Mengingat posisi dari belakang, Shani mulai memanfaatkan kelihaian pinggulnya.
Ia tidak hanya mendorong lurus, melainkan sedikit menaikkan sudut pinggulnya di setiap hunjaman, sengaja mengarahkan ujung milik nya untuk menghujam tepat di mana area
G-spot istrinya berada.
*Pakh!
"Aaaaahhh!!" Desah Gracia
"Nngghhh...Graciaaaa.....Ahhh........ Sempit sekali, hhh, nikmat......" desah Shani,
Demi menjaga tubuh Gracia agar tidak terdorong ke depan, Shani emeluk erat pinggang dan perut Gracia dari belakang, menyatukan dada bidangnya yang hangat dengan punggung mulus sang istri tanpa ada jarak .
Dengan posisi seperti itu, Shani kembali menggerakkan pinggulnya dengan sangat lihai, maju, memutar , lalu menariknya mundur secara perlahan sebelum kembali menghantam titik terdalam yang sama.
*Splap........ splash.....
"Ah! Ah! Shani........ hhh........ j-jangan berhenti..... emmpphh........" rintih Gracia,
Tanpa sadar, Gracia mulai memajukan dan memundurkan pinggulnya sendiri, menantang hantaman Shani dan memaksa tempo permainan mereka naik menjadi jauh lebih cepat dan memburu.
"Ah! Ah! Shani...... hhh........ cepat........ lebih cepat, shaniii..... Ahhh!" pekik Gracia Shani menggerakkan pinggulnya dengan kuat, cepat, dan menghunjam dalam tanpa ampun.
"Nngghhh........... ssshh, ah! Sedikit lagi, ........ hhh........ bersama-sama.....aaahh!" erang Shani,
"Shaniii.. aku keluarr Ahhhh!"
"Graciaaa Nggghhh!"
*Splap!*
Di saat yang bersamaan, rahim Gracia menjepit dengan kedutan klimaks yang dahsyat, menyambut semburan cairan hangat Shani yang memuncrat.
Keduanya membeku sesaat, menikmati
kepuasan bersama dalam satu waktu yang sama,
Setelah klimaks, mereka berdua sama-sama jatuh tengkurap di atas kasur.
*Hhh...... hhhh...... hhh.....
Setelah itu milik Shani terlepas dari lubang keintiman Gracia secara alami.
Lalu Shani menyandarkan dagunya di bahu Gracia, memeluk tubuh sang istri dan mengecup bahu Gracia
"Terima kasih untuk malam ini," bisik Shani
"Terima kasih juga sudah memuaskan ku," sahut Gracia lirih
Shani kemudian menarik selimut dan menyelimuti mereka berdua, lalu menarik Gracia ke dalam dekapannya yang hangat. Gracia merapat, mencari posisi ternyaman di pelukan suaminya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shani
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa untuk klik Follow blog ini agar kamu selalu mendapatkan notifikasi update untuk bab-bab terbaru dan cerita eksklusif lainnya. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia!
This comment has been removed by the author.
ReplyDeletegragas bngt dah si tuan putri moga cepet jadinyaa dehh๐คญ๐คญ
ReplyDeleteshani selain jago berburu , jago juga nih muasin istrinyaa candaa๐คญ
ReplyDelete