SHANTUI - Tuhkan! [6.000]
Bab Ini Dikunci
Masukkan kode akses untuk lanjut membaca.
CARA BELI AKSES:
1. DM admin untuk konfirmasi pembelian.
2. Harga SHANTUI- Tuhkan! : Rp6.000.
3. Kirim bukti transfer Anda.
4. Admin akan memberikan KODE AKSES ke Anda.
*Mohon menunggu cuy, Admin akan membalas chat Anda sesegera mungkin (1x24 jam)
Bab Selanjutnya
*(Part sebelumnya di Wattpad)
Setelah dipaksa terus-menerus tanpa henti, Shani akhirnya menyerah lalu ia menatap istrinya dengan wajah yang sudah sangat pasrah.
"Iya, iya, aku kasih liat! Tapi janji ya, kamu jangan ketawa!" syarat Shani sambil turun dari kasur.
Kemudian Shani berdiri canggung di samping ranjang. Sambil memalingkan wajahnya karena sangat malu, Shani menurunkan sedikit celananya cuma dalam hitungan detik lalu cepat-cepat menariknya naik kembali.
"Tuh! Udah ya!" seru Shani cepat-cepat sambil merapatkan kembali celananya.
"Ih! Mana kelihatan kalo gitu! Ulang lagi yang bener dong!" protes Gracia sambil tertawa gemas.
Setelah mendengar omelan istrinya, Shani mau tidak mau kembali menurunkan celananya sedikit lebih lama dengan wajah yang makin merah padam.
Kemudian Gracia mengintip untuk melihat secara detail bentuk alat vital Shani yang ternyata tampak masih malu-malu dan belum tegang.
"Waahhahahaa lucu banget bentukannya, gemoy ya kalo belum bangun," tawa Gracia polos tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Seketika Shani langsung menarik celananya lalu ia buru-buru naik ke atas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut rapat-rapat.
"Tuh kan kamu malah ketawa! Kan tadi udah janji nggak bakal ketawa!" gerutu Shani sambil merapatkan selimutnya.
"Abisnya unik, bentuknya itu lho Shan, kayak apa ya, lucuuuu banget!" goda Gracia lagi tanpa sadar membuat perasaan Shani makin terluka.
"Udah ah, aku mau pulang aja ke rumah mama, males banget dikata-katain gitu," gumam Shani lesu.
"Eh eh, jangan dong sayang! Bercanda doang kok! Bagus kok bentukannya!" puji Gracia jujur sambil mengusap dada Shani.
"Coba kasih lihat sekali lagi dong sayang, aku pengen pegang......" pinta Gracia penasaran.
Setelah dibujuk terus-menerus, Shani akhirnya menyibak selimut dan menurunkan celananya kembali. Kemudian terlihat milik Shani yang kini ukurannya sudah agak membesar dan mengeras karena ereksi, meskipun Shani sendiri sebenarnya sudah hilang mood gara-gara diejek tadi.
Lalu Gracia mendadak menghentikan tawa dan candaannya, sebab ia tertegun melihat perubahan ukuran serta bentuk milik Shani.
Lalu Gracia mengulurkan tangannya, sementara Shani sendiri menatap pergerakan tangan istrinya dengan wajah sangat was-was dan tegang.
"Jangan aneh-aneh ya Ge, aku tuh gelian banget orangnya," bisik Shani. Kemudian Gracia meraba dan mengelus batang yang kini sudah terasa cukup hangat serta keras itu.
"Wahh lumayan tebel ya ternyata," ulas Gracia sambil terus meraba teksturnya.
"O iya dong!" bela Shani.
Kemudian Gracia dibuat salah fokus saat melihat ujung batang Shani yang kini sudah mengeluarkan sedikit precum.
"Eh kok ada lendirnya dikit Shan? Kan tadi cuma aku pegang-pegang doang," goda Gracia.
Lalu Shani langsung melonjak kaget saat jari Gracia menyentuh area sensitif tersebut, kemudian ia dengan cepat menepis tangan istrinya.
"Aduh Ge, jangan di situ! Geli banget sumpah!" seru Shani sambil membuang wajahnya yang makin memerah.
Kemudian Gracia menatap suaminya dengan bingung, lalu ia memperhatikan bagian kepala penis Shani yang tampak sangat sensitif itu.
"Loh, di bagian ini geli kah?" tanya Gracia penasaran.
Setelah melihat Gracia mau menyentuh bagian itu kembali, Shani buru-buru melindungi bagian bawah tubuhnya.
"Iya, kepala penis aku tuh gelian banget kalo dipegang langsung begitu, apalagi kalau cuma disentuh-sentuh ujungnya pake jari!" aku Shani jujur dengan nada memelas.
"Oalah, jadi kunci bikin kamu kegelian ada di sini toh," goda Gracia sambil menatap sengit ke arah mata Shani.
Seketika Shani makin merapatkan paha lalu ia menatap Gracia dengan pandangan memohon agar tidak dijahili lagi.
"Ge, udah dong, kasian aku dari tadi dikerjain terus," kata Shani pasrah.
"Iya deh iya, kasihan sayang aku mukanya udah kayak mau nangis gitu," tawa Gracia manis sambil mengecup pipi Shani.
"Hummm," gumam Shani manja.
"Udah berdiri begini mau dibiarin gitu aja? Kamu mau aku apain nih biar enakan?" bisik Gracia sambil mengusap dada Shani.
Setelah sempat ragu dan menimbang-nimbang karena malu, Shani akhirnya memberanikan diri untuk mengutarakan permintaannya.
"Emm...... tolong kocokkin pelan-pelan aja pake tangan Ge, tapi jangan sentuh ujung kepalanya dulu ya," pinta Shani pasrah.
Kemudian Gracia tersenyum manis menyetujui permintaan tersebut, lalu menggerakkan tangannya naik turun.
Seketika Shani langsung memeluk dan meremas bantal tebal itu kuat-kuat untuk menahan sensasi itu.
"Ssshh..... pelan-pelan," lenguh Shani sambil bergoyang canggung di atas kasur.
"Yang anteng napa, orang kamu kalo main sendiri gak begini kan?" goda Gracia.
"Kalo main sendiri kan gak geli, tapi ini pertama kali dimainin orang jadinya geli rasanya!" aku Shani jujur dengan merem melek menahan nikmat sekaligus kegelian.
Lalu Gracia mempercepat gerakan mengocok batang Shani.
"Ah..... ahh..... Ge....." desah Shani.
Kemudian Shani membuka matanya yang berair dan melirik dada Gracia yang tersingkap untuk memancing.
"Ge..... udah mau..... keluar....." bisik Shani terbata-bata.
Setelah beberapa kocokan, Shani akhirnya mengeluarkan cairan kental putih itu beberapa kali hingga membasahi perut dan tangan Gracia.
"Hah..... hah....." napas Shani terengah-engah pasrah.
"Banyak juga ya keluarnya, kentel banget lagi," gumam Gracia sambil mengamati cairan itu.
Lalu Shani langsung membalikkan badannya kembali menghadap Gracia, kemudian ia menatap payudara Gracia dengan pandangan menuntut yang bercampur rasa malu.
"Enggak adil dong Ge! Dari tadi punya aku udah dikata-katain, dipegang-pegang!" protes Shani sambil mengerucutkan bibirnya.
"Terus kamu mau apa?" goda Gracia santai.
"Aku juga mau liat nenen kamu! Pokoknya harus boleh!" seru Shani ngotot.
Lalu Gracia tertawa melihat tingkah Shani yang sok berani tetapi matanya berkedip-kedip gelisah, kemudian ia membuka kancing bagian atas baju tidurnya.
Setelah cup bra itu tersingkap, Gracia memperlihatkan bagian dadanya yang mulus tepat di depan mata Shani.
"Tuh, liat nih. Puas?" ledek Gracia membuat seketika Shani langsung membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu ia menutup mulutnya sendiri karena benar-benar terpana.
"Ihh..... ihhh..... ternyata begini ya!" kata Shani heboh sendiri.
Kemudian Shani mendekatkan tangannya yang gemetar ke arah dada Gracia, lalu ia menyentuhnya secara ragu-ragu dengan ujung jarinya.
Setelah merasakan kelembutan itu sebentar, Shani buru-buru menarik tangannya kembali sambil menutup wajahnya dengan bantal sambil tertawa-tawa senang tanpa henti, sebab ia merasa sangat gembira bisa melihat dan menyentuh milik istrinya untuk pertama kali.
"Kenapa sih! Cuma gitu doang langsung heboh banget!" tawa Gracia sambil menepuk-nepuk bahu Shani.
"Abisnya beda banget pas diliat dari luar baju!" aku Shani jujur sambil merengkuh bagian lembut di dada Gracia tersebut.
Sambil terus meremas, Shani menatap wajah istrinya sambil menyengir lebar.
"Sukakk," gumam Shani girang sambil terus memainkan dada Gracia tanpa henti.
"Puas-puasin deh remesnya," ledek Gracia.
Lalu Shani makin mempercepat remasannya secara bergantian kanan dan kiri, kemudian ia menyandarkan dahinya di bahu Gracia sambil terus tertawa senang karena akhirnya bisa menang banyak malam ini.
"Btw Ge, kok gak ada susunya sih?" tanya Shani polos.
*Plak!
"Ya belum ada lah Shani! Kamu pikir bisa keluar sendiri tanpa hamil dan melahirkan dulu apa?!" kesal Gracia gemas sambil mencubit kedua pipi Shani sampai memerah.
Seketika Shani meringis sambil memegangi pipinya, lalu ia menatap Gracia dengan pandangan polos yang masih sedikit bingung.
"Oalah...... aku kira bentukannya kayak sapi gitu, kalau dipencet-pencet langsung keluar air susunya," gumam Shani jujur.
"Astaga Shaniii!!" tawa Gracia terbahak-bahak.
"Ya udah, walaupun enggak ada susunya, aku tetep mau nen!" seru Shani ngotot sambil mengecupi dan mengulum puting Gracia.
"Jangan kuat-kuat isepnya," bisik Gracia sambil menahan desah.
Lalu saat Shani sedang sangat asyik menikmati payudara Gracia, Gracia melihat bagian bawah Shani yang masih terbuka, sebab tadi hanya sempat dilap seadanya sesudah cairan Shani keluar.
Lalu Gracia menggelitik kepala penis Shani menggunakan ujung kuku.
Seketika Shani langsung tersentak hebat, lalu ia melepaskan isepannya dari dada Gracia karena kaget setengah mati.
"AAAAA! GELI GEGEEE!" jerit Shani heboh.
"Hahaha kamu asik banget nennya sampe lupa bawahnya masih melambai-lambai gitu!" tawa Gracia puas tanpa rasa bersalah.
"Kamu mah jahat! Padahal aku lagi enak-enak nen!" gerutu Shani menatap Gracia sebal.
"Iya iya maaf, bercanda doang sayangg. Sini nen lagii, janji gak bakal ditoel lagi," bujuk Gracia membuat Shani mendekat kembali.
====
Beberapa hari setelah Gracia selesai dari masa haidnya, Shani langsung memeluk istrinya erat dari belakang.
"Sayang aku kangen banget," bisik Shani manja.
"Baru juga ketemu, lebay deh," jawab Gracia.
"Humm kangenn," sahut Shani makin manja.
"Udah beres kan?" lanjut Shani.
"Beres apa? Cucian? Udah kok," jawab Gracia santai.
"Ih, bukan itu! Itunya udah bisa kan? Aku udah pengen masuk," seru Shani blak-blakan.
"Masuk? Masuk ke manaa?" tanya Gracia jahil.
"Ih, pura-pura gatau banget si ahh! Kamu tahu kan yang aku maksud? Udah lama banget aku sabar nungguin."
"Oooh, emang kalo mau masuk harus izin dulu?" goda Gracia sambil mencubit hidung suaminya gemas.
"Ya harus lah! Kan biar enak karna sama-sama mauu.." kata Shani makin merapatkan pelukannya.
"Boleh ya? Sekarang ya?" pinta Shani.
"Ayolah Gee," bisik Shani memelas.
Kemudian Shani menempelkan area bawahnya yang makin mengeras ke arah bokong Gracia. Ia memberikan dorongan-dorongan bentuk kode.
"Astaga Shani...... ih, iyaiya boleh!" tawa Gracia sambil menepuk-nepuk paha Shani.
Seketika Shani langsung mengangkat tubuh Gracia ke dalam gendongannya menuju kamar tidur.
Ia menyibak daster dan menarik celana dalam Gracia ke bawah hingga terlepas dan menampilkan bagian intim milik istrinya di depan mata.
"Waaa akhirnya bisa liat langsungg," gumam Shani saat memperhatikan bentuk area intim Gracia dari dekat.
"Lembut," bisik Shani sambil menyengir lebar.
Kemudian Shani membuka bibir vagina Gracia dan membelalak kagum saat melihat bagian dalam yang tampak kemerahan, basah, dan sangat bersih. Ia memperhatikan setiap lekukan halus di sana, dari tonjolan kecil di bagian atas hingga celah lubang yang sedikit terbuka di bagian bawah.
"Ih Shani! Jangan diliatin kaya gituu malu tauu," seru Gracia dengan pipi yang memerah padam.
Lalu Shani tidak mempedulikan omelan itu, justru ia malah mendekatkan wajahnya sambil menghirup aroma yang khas dan wangi dari sana, lalu memberikan kecupan-kecupan di bagian paha dalam serta area sekitar bagian sensitif Gracia.
"Wangi banget Ge..... bersih banget," gumam Shani membuat Gracia mendadak tersentak dan meremas sprei kuat-kuat karena kegelian.
"Kecil banget ya ternyata lubangnya," gumam Shani.
"Shani jangan cuma diliatin terus, ngghh!" desah Gracia malu-malu.
"Iya iya..... ini aku basahin dulu biar licin," ucap Shani penuh perhatian.
Kemudian Shani memberikan kecupan-kecupan di area lubang tersebut.
"Ah..... Shani..... hhh," desah Gracia pasrah.
Lalu Shani mengulum di tonjolan sensitif milik Gracia yang sukses membuat Gracia kehilangan fokus.
"Ssshh..... Shani..... pelan-pelan," desah Gracia terbata-bata sambil mencengkeram rambut Shani.
Melihat itu, Shani menyelipkan satu jarinya masuk ke dalam lubang vagina Gracia, lalu memompanya dengan gerakan maju mundur sambil terus memanjakan bagian klitorisnya dengan lidah.
"Ah..... ahh..... Shani! Udah mau..... keluar..... hhh!" jerit Gracia pasrah. Shani makin mempercepat gerakan jarinya dan memberikan isapan terakhir yang cukup.
Seketika tubuh Gracia meregang tegang, pahanya merapat menjepit kepala Shani.
"AHHH! SHANIII!"
Gracia mendesah panjang sambil menyemprotkan cairannya membanjiri jari dan bibir Shani.
"Enak kan Ge?" ledek Shani sambil tersenyum puas.
"Hhngggmmm," lenguh Gracia.
Lalu Shani bangkit berdiri dan membuka celana dan celana dalamnya hingga terlepas.
Shani menyengir, lalu mengocok batangnya sendiri naik turun dengan gerakan cepat untuk memastikan miliknya benar-benar mengeras sempurna.
*Sret..... sret.....
"Biar makin keras nih Ge," gumam Shani.
Setelah dirasa cukup, Shani mengusapkan cairan basah milik Gracia yang masih tersisa di jari tangannya ke sepanjang batang dan ujung kepala penisnya agar licin.
Lalu Shani menindih tubuh Gracia, memposisikan dirinya di antara kedua paha istrinya yang masih terkulai lemas setelah puncaknya tadi.
"Aku coba masukin ya? Penasaran banget rasanya gimana....." bisik Shani jujur.
Sementara Gracia yang melihat ukuran milik Shani yang sedang menegang keras mendadak menelan ludah.
"Duh Shan, plis pelan-pelan ya? Takut, kok keliatan gede banget," pinta Gracia cemas sambil meremas bahu Shani kuat-kuat.
"Iya sayang, pelan-pelann banget kok," janji Shani lembut.
Lalu Shani mengarahkan ujung penisnya ke lubang Gracia yang sudah sangat basah, kemudian ia mulai menekan pinggulnya perlahan-lahan.
Saat bagian ujungnya masuk, Gracia langsung memejamkan matanya rapat-rapat.
"Ssshh..... Aww! Sakit Shan, perih!" meringis Gracia sambil memalingkan wajahnya.
"Aauhh ketat banget Ge," adu Shani, namun tetap diam sejenak untuk memastikan istrinya tidak lagi meringis kesakitan. Ia menahan berat badannya dengan kedua siku di samping kepala Gracia.
"Pelan-pelan ya..... atur napas kamu sayang," bisik Shani lembut.
"Huhh..huh....., coba masukin dikit-dikit," pinta Gracia.
Perlahan, Shani kembali mendorong pinggulnya. Setiap kali ia masuk lebih dalam, Gracia tampak sedikit tersentak, namun ia mulai bisa menerima ukuran milik Shani yang terasa sangat penuh.
"Ah..... eng..... Shani....." desah Gracia.
Shani segera menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan menenangkan. Ia mengecup bibir Gracia berkali-kali agar istrinya tidak tegang.
"Hhh..... ahh.."
Desahan Gracia kini terdengar lebih berirama, seiring dengan Shani yang mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang sangat lambat dan stabil. Shani terus menatap mata istrinya, memastikan setiap gerakan yang ia lakukan memberikan kenikmatan dan bukan rasa sakit.
"Enak?" tanya Shani dengan suara berat yang parau.
Sementara Gracia hanya mengangguk sambil meremas rambut Shani. Setiap kali Shani mendorong pinggulnya masuk lebih dalam, Gracia akan melengkungkan punggungnya, menyambut setiap sentuhan itu dengan erangan tertahan yang sangat menggoda.
"Ah..... Shani..... ahh..... iya..... di situ..... terushh ahh," desah Gracia parau.
Shani tidak bisa menahan senyum puasnya. Ia merasa sensasi jepitan di dalam sana terasa jauh lebih nikmat dari bayangannya.
"Ge.......... ah..... enak banget.....," desah Shani.
Shani mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang lebih cepat dan bertenaga.
*Hhh..... ahh..... ahh.....*
"Shani..... aku..... mau lagi..... ah..... kencengin lagi!" pinta Gracia di tengah desahannya yang makin panjang.
Shani semakin menggerakkan pinggulnya makin cepat dan dalam. Keringat mulai membasahi tubuh mereka.
"Ah..... ah! Ge..... enak banget Ge..... aku mau keluar ini..... hhh!" desah Shani heboh sambil terus menumbuk bagian dalam Gracia.
Gracia yang merasakan milik Shani makin membesar dan berdenyut kencang di dalam dirinya ikut terpancing. Ia memeluk leher Shani erat-erat sambil melengkungkan badannya naik.
"Sama Shan..... aku juga mau..... kencengin lagi..... AHH!" jerit Gracia pasrah.
Seketika Shani mendorong pinggulnya sangat dalam sampai mentok, lalu ia menahannya di dalam sana.
*Crot! Crot!*
Cairan hangat milik Shani menyembur deras membanjiri rahim Gracia.
"AHHHH GEGEEE!" erang Shani keras.
"Ahhhh........" desah Gracia.
Setelah semua cairannya habis disemburkan, Shani langsung ambruk menindih tubuh Gracia.
"Gila..... enak banget Ge..... parah," gumam Shani lemas.
Setelah beberapa menit berlalu dan tenaganya terasa kembali pulih, Shani menatap wajah Gracia dengan cengiran lebar yang sangat antusias.
"Geee," panggil Shani dengan nada manja.
"Hmm?" jawab Gracia pelan sambil mengusap punggung Shani.
Kemudian Shani makin merapatkan badannya, lalu ia mulai menggesek-gesekkan miliknya yang mulai melunak ke perut Gracia.
"Ternyata enak banget ya kalo pake memeww kamu," ucap Shani jujur tanpa malu-malu.
"Titit aku pas di dalem rasanya enak banget, anget, terus kek di jepit kenceng gitu. Aku gak nyangka bakal senikmat ini!"
"Baru tau ya?" kekeh Gracia geli membuat Shani mengangguk semangat, ia mulai mencium leher Gracia bertubi-tubi karena kegirangan sendiri.
"Mau lagi dong? Boleh ya?"
"Dih, baru juga selesai udah minta lagi!" ledek Gracia.
"Ya habisnya enak! Aku masih mau ngerasain ke memew kamu lagiii," pinta Shani sambil mulai menggesekkan pinggulnya lagi dengan manja di atas tubuh istrinya.
"Yaudah iya boleh, tapi ganti gaya yaa. Dari tadi misionaris terus, aku mau coba yang lain," kata Gracia sambil mengusap pipi Shani.
"Mau gaya gimana Ge? Asal bisa masuk lagi aku nurut aja!"
"Kamu tidur telentang sekarang, biar aku yang di atas," suruh Gracia.
Kemudian Shani merebahkan badannya terlentang di atas kasur dan menatap Gracia yang kini naik menindihnya.
Gracia memposisikan dirinya berlutut di atas paha Shani. Namun, alih-alih menghadap ke wajah suaminya, Gracia justru berbalik membelakangi Shani. Gaya ini membuat Shani langsung kagum karena bisa melihat lekukan punggung dan bokong istrinya dari belakang dengan sangat jelas.
"Anjay sexyyy!" seru Shani polos sambil memegangi pinggul Gracia dari belakang.
Sementara Gracia memegang batang milik Shani yang sudah kembali menegang dan mengarahkannya tepat di lubangnya yang masih basah licin. Perlahan-lahan, Gracia menurunkan pinggulnya dan membiarkan milik Shani masuk.
"Ahh.......... mmm," desah Gracia.
Gracia mulai memompa pinggulnya naik turun secara teratur. Setiap kali Gracia menurunkan badannya sampai mentok, Shani ikut menaikkan pinggulnya dari bawah, menyambut dorongan itu dengan desahan yang makin keras.
"Enak banget Ge..... ahh! Kamu pinter banget goyangnya!" puji Shani dengan mata merem melek.
"Ah..... Shani..... hhh..... udah mulai..... kerasa lagi nih.....," desah Gracia terengah-engah.
Beberapa saat berlalu, gerakan Gracia makin lama makin melambat, hingga akhirnya ia berhenti tepat saat posisi miliknya menancap dalam di dalam sana.
"Aduh Shan..... hhh..... capek banget kaki aku.....," keluh Gracia sambil menyandarkan punggungnya ke dada Shani.
"Tenang aja, biar aku yang dorong dari bawah!" seru Shani antusias.
Tanpa membuang waktu, Shani memegang pinggul dan paha Gracia kencang-kencang dari belakang. Dari posisi terlentang, Shani mulai menghentakkan pinggulnya naik ke atas dengan kuat dan bertenaga.
"AHHH!!" jerit Gracia kaget.
"Enak kan Ge?! Aku genjot dari bawah!?!" seru Shani heboh.
Kemudian Shani terus memacu hentakan pinggulnya dari bawah ke atas dengan ritme cepat.
"Ah! Ah! Shani..... kenceng banget..... HHH!" desah Gracia makin meliuk-liuk pasrah di atas tubuh Shani.
"Bentar lagi Ge..... aku mau keluar lagi ini..... ayo barengan lagi!" erang Shani sambil memainkan klitoris Gracia sekaligus.
"Iya Ge..... aku udah gak kuat lagi ini..... tahan Ge!" erang Shani heboh sambil mempercepat entakan pinggulnya dari bawah ke atas.
"Shani..... ahh! Aku juga..... udah mau keluar lagi..... AHH!" jerit Gracia pasrah sambil melengkungkan badannya ke belakang.
Dinding vagina Gracia langsung menjepit kencang batang Shani.
"AHHH!"
*Crot! Crot!*
Semburan hangat cairan Shani kembali ditembakkan deras di dalam sana. Bersamaan dengan itu, Gracia mendesah panjang sambil memejamkan mata rapat-rapat saat mencapai puncaknya.
"HHH..... SHANI..... ENAK BANGET..... AHHH!" desah Gracia panjang dengan napas terengah-engah parah.
"Ahhh..... Ge.......... nikmat banget..... hhh.....," balas Shani.
Tubuh Gracia akhirnya terkulai lemas di atas dada Shani. Mereka berdua sama-sama terbaring pasrah sambil memeluk satu sama lain. Wajah Shani benar-benar merah padam sampai ke leher dan telinganya.
Keringat membasahi seluruh tubuh mereka, membuat kulit Shani dan Gracia terasa licin dan hangat saat menempel satu sama lain.
Perlahan, Shani mencabut miliknya lalu terguling terlentang di samping istrinya sambil mengembuskan napas panjang yang amat lega.
"Hah..... hah.....," gumam Shani menatap langit-langit kamar dengan wajah teler yang amat puas.
"Gimana? Puas?" tanya Gracia.
"Puas banget! Pokoknya aku ketagihan! Besok mau lagi ya? Tiap hari ya Ge? Wajib pokoknya!" seru Shani semangat.
"Puk!"
Gracia yang gemas bercampur malu langsung menepuk kepala Shani lumayan kencang sampai bersuara.
"Sembarangan! Tiap hari matamu! Dikira gak pegel apa?!" gerutu Gracia sambil tertawa geli.
"Aduh! Kok ditabok sih?!" ringis Shani sambil mengelus kepala.
"Seumur-umur, milikku ini baru pertama kali ngerasain ini!" Lalu Shani menunjuk lagi ke bagian bawah tubuhnya.
"Ya iyalah baru ngerasain, kan kamu baru nikah sama aku, Shani!" pangkas Gracia sambil mencubit pinggang suaminya.
"Pokoknya punya aku ini udah jatuh cinta sama punya kamu. Dia tadi pas di dalam bilang terima kasih tau ke aku!"
"Hah?! Mana ada bisa bilang terima kasih!" tawa Gracia mendengar ocehan ngawur suaminya.
"Bisa! Pokoknya tadi dia berdenyut-denyut gitu pas keluar banyak di dalem!" kekeh Shani sambil ikut tertawa dan memeluk pinggang Gracia erat-erat.
"Eh, Shan, berarti tadi itu kan keluar di dalam semua ya?" panggil Gracia pelan sambil mengusap-usap perutnya.
"Berarti bisa langsung jadi pembuahan dong itu?"
"Eh iya ya! Kan tadi keluar banyak banget di dalem!" seru Shani sambil mengusap perut istrinya, lalu ia menempelkan bibirnya di sana dan memberikan kecupan yang sangat lama.
"Ya Tuhan, semoga yang tadi itu langsung jadi ya," doa Shani tulus.
"Semoga sperma aku bisa ketemu sama sel telur Gege, terus tumbuh sehat jadi baby yang lucu di dalam sini."
Gracia mengaminkan doa itu dalam hati, matanya ikut berkaca-kaca menatap wajah Shani yang begitu tulus.
"Semoga cepat dikasih kepercayaan ya sayangg" sahut gracia lembut.
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa untuk Follow dan Comment blog ini agar kamu selalu mendapatkan notifikasi update cerita eksklusif lainnya. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia!
Comments
Post a Comment